Jumat, April 12, 2019

Safa 2 Minggu

Diposting oleh ghea utari di Jumat, April 12, 2019
Hi, Kakak Safa!

Mama nggak sabar liat kakak bertumbuh, biar bisa jalan-jalan kita.

Nanti kakak jadi anak petualang ya, yang pemberani. Biar nggak jadi anak rumahan. Biar ketemu dan kenal banyak orang. Biar belajar dari kehidupan. Biar nggak cengeng... Biar kakak berani dan tahu ke mana harus melangkah ketika ayah dan mama ga bisa menemani kamu lagi. Biar kamu kuat!

Ayah, mama, uti sayang kakak.

Salam rindu

Ciledug, 12 April 2019
Mamanya Safa

---

Hari ke - 5, Safa sudah dua hari di rumah. Hari pertama di rumah rewelnya bukan main. Setiap setengah jam sekali nangis. Akhirnya saya juga nangis. Bekas luka cesar juga masih terasa ngilu kadang-kadang. Randi peluk saya. Masih jam 10 malam padahal, saya bilang ke Randi, "aku capek.. ngantuk.. nggak kuat.." sambil nangis, ngejer.

---

Hari ke 6, masih pagi, kami shock pipisnya Safa seperti keputihan bercampur darah. Air besarnya pun berubah jadi warna coklat muda bercampur seperti biji-bijian cabai, padahal biasanya hitam cair.

akhirnya, yang harusnya kontrol masih 2 hari lagi, malam itu kami pergi ke BWCC bertemu dokter Herwasto. Kata dokter, itu pipis normal, efek hormon ibunya. Mungkin berlangsung sampai 2 minggu. Safa sendiri berakhir di hari ke 7.

Air besarnya juga normal, menunjukkan bahwa pencernaannya sudah normal. Kalau yang warna hitam justru yang masih masa penyesuaian.

Alhamdulillah..

---

Hari ke - 12, saya kontrol terakhir dengan dr. Pramety di BWCC. Perban sudah terlepas sendiri. Alhamdulillah lukanya aman..

Salah saya, siang tadi saya belum tidur sama sekali. Pulang dari BWCC sudah jam 23.30, maklum pasien terakhir. Sampai rumah masih makan dulu. Jam 12 malam baru mau tidur. Safa malah bangun.

Sudah jam 3, Safa rewel terus. Sudah saya ganti popok, berkali-kali dikasih ASI, masih juga nangis ngejar.

Akhirnya saya nangis, lagi. Mau marah,  sambil bilang, "Kakak Safa yang anteng dong... mama capek.. ayah besok kerja... bantuin mama... please.." Safa terdiam sebentar, lalu kembali merengek.

Suami saya akhirnya terbangun. Meluk saya. Saya disuruh tidur. Safa digendong Randi. Akhirnya kami begadang berdua.

Lalu saya coba kasih ASI sambil tidur miring, dengan harapan kalau Safa sudah tidur bisa langsung direbahin. Eh, dia ga mau tidur rebahan, kayak anak gede aja.

---

Kami coba mencari segala kemungkinan kenapa Safa rewel semalam. Mungkin karena saya belum ganti pembalut, jadi mengundang "tamu" dari luar. Sampah di kamar juga belum dikeluarkan. Katanya, kebersihan itu sebagian dari iman kan?

---

Hari ke 13. Sebelum tidur, saya ganti pembalut dan mengeluarkan semua sampah dari kamar. Safa sudah nggak se rewel kemarin.

Saya jadi merasa bersalah. Astaghfirullah... kenapa saya marah ke Safa semalam. Mungkin dia capek nganter saya kontrol, tapi dia nggak bisa bilang. Cuma bisa nangis. Justru kasian Safa, harusnya saya yang bantuin Safa. *Mewek lagi

Tiba-tiba di luar terdengar suara teriakan. Tetangga depan rumah kesurupan dua makhluk. Astaghfirullah.. udah pindah ke depan kali ya tamunya. Saya peluk Safa sambil baca Al-Fatihah, Qul hu, dan ayat kursi, ajaran ayah saya ketika saya kecil kalau ketemu "tamu".

---

Hari ke 14.

Masha Allah Safa pinter banget. Setelah tidur jam 10 malam, Safa cuma kebangun jam 12, jam 2.30, jam 4, sama jam 5. Itu pun yang jam 5 karena popoknya sudah penuh. Dan.. sudah mau bobo di kasurnya sendiri! Masha Allah..

Mandi pagi juga sudah nggak rewel, walaupun pertamanya kaget karena habis berjemur, buka baju, tau-tau ada di tempat "pembersihan". Langsung lah saya dipipisin. He he

Kalau mau minta susu juga sudah nggak seheboh kemarin. Konon katanya anak yang baru lahir nyari-nyari puting ibu dari indra penciuman. Jadilah kakak Safa kalau sudah digendong langsung nyari-nyari tempat ASI kayak doggy: nafasnya terengah-engah, hidungnya diendus-endus, mukanya berubaa jayaj muka kucing. Lucu banget. Tapi sambil nangis teriak.

Sekarang kalau mau mimik badannya diturunin, kepalanya dimiringin.. Masha Allah nak.. belum genap 2 minggu lho kamu, udah pinter bener.. 

Kalau jam segini (pagi sampai sore), saya bedong Safa.. takutnya banyak suara-suara yang bikin Safa kaget sampai kaki dan tangannya diangkat, jadi tidurnya nggak nyenyak. Kalau dibedong, kaki dan tangannya dijaga biar nggak kaget, dadanya juga dihangatkan biar tenang.

Ini sudah dua jam Safa tidur. Harusnya sih kata dokter dua jam sekali dikasih ASI. Tapi ASI saya sepertinya berlebih, dan nafsu minumnya Safa tinggi, jadi baru 15 menit minum saja dia sudah mabok sampai gumoh. Jadilah saya biarin aja, nunggu sebangun-bangunnya Safa untuk nyusu.

---

Aih.. 2 minggu yang lalu jam segini, saya belum tau wajah kak Safa. Masih di ambulance yang super ngebut. Itu supirnya nggak tau apa efek kontraksi dari induksi masih sedikit terasa :')

---

Setiap kali Safa kaget, nggak berhenti saya bisikkan ke Safa, "Tenang kakak Safa.. itu cuma suara petir.. Kakak Safa ngga boleh takut.. kan Kakak Safa pemberani.. kalau Safa takut, Safa berdoa, 'ya Allah.. lindungi Safa.. Safa takut.. berikanlah rasa aman ya Allah.. hanya kepada engkaulah Safa berlindung daj memohon..'

nggak selamanya mama sama ayah bisa ngelindungin kakak Safa.. jadi kakak Safa harus berani ya... dan selalu minta perlindungan ke Allah.."

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei