Mungkin di kantor nggak banyak yang tahu kalau saya nggak suka dengan yang namanya Perpisahan. Aneh aja, misalnya kita sering ngobrol dengan seseorang lalu dia menghilang. Kalau dulu, sudah hampir dipastikan saya akan menangis. Lama-lama, jadi mati rasa.
---
(Alm Bu Endang) : Mba Ghea, ngapain jalannya begitu?
Saya : Nggak tahu nih, bu.. sakit bener..
ABE : Minum air putih yang banyak.. masih muda harus sehat..
---
Dapet berita, Bu Endang beberapa bulan yang lalu dipanggil Allah. Sehari sebelumnya padahal masih bisa bercanda, "Ibu cepet sembuh.. biar bisa mergokin saya di ruang arsip.."
"Waduh, ngapain mba ghe di ruang arsip?"
"Hanya aku, Bu Endang, dan Allah yang tahu.. hehehe" lalu Bu Endang tersenyum.
---
Orang-orang di kantor sudah seperti keluarga. Semuanya baik-baik, yaa, walau ada satu dua yang sedikit menyebalkan. Tapi overall, baik-baik banget. Visinya sama, yakni nggak ada visi untuk memenangkan diri sendiri. Jabatan nggak terlalu penting. Kebanyakan orangnya punya tipikal mensyukuri apa yang ada, tapi tetap akan memaksimalkan apa yang perlu dimaksimalkan. Bukan juga tipikal yang suka makan di restauran mewah (ternyata ini berasa banget bedanya waktu makan bareng Acin dan Fikka :').
Unik? Banget.
Makanya, kalau ada orang lama yang resign (di sini, setahun teh berasa lama bener), rasanya... aneh. Di sini, setahun berasa lama bener. Bukan karena kerjaan yang nggak selesai-selesai, tapi lebih karena kita bisa dekat luar dalam dengan teman sekantor, sedivisi atau lintas. Berasa punya kakak banyak.
---
Buka email. Ada tiga orang resign.
Rasanya aneh. Tapi hidup kadang memang pilihan. Atau itu namanya takdir? Jalannya? Saya masih meraba-raba soal ini. Terlalu banyak pertanyaan. Kenapa bisa seperti itu? Itu nggak mungkin. Kenapa dia lebih pilih itu? Masa sih yang orang lain liat beda? Nggak, nggak, nggak, semuanya banyak yang tidak masuk akal sehat saya.
Tapi pada akhirnya.. itu pilihan mereka, dan itu mungkin sudah takdir mereka. Toh, mereka happy. Toh, mereka adalah orang Paragon yang selalu bersyukur atas apapun nikmat yang diberikan: nikmatnya rezeki, nikmatnya ujian, nikmatnya sehat, nikmatnya sakit..
Paragon, yang dalam hal ini adalah teman-teman di dalamnya, mengajarkan saya banyak hal, terutama wujudnya rasa syukur, dimulai dari bagaimana pikiran positif bisa punya impact yang sangat dahsyat untuk diri sendiri dan lingkungan.
Pertanyaan-pertanyaan yang aneh itu biar saya nikmati saja prosesnya. Jawabannya mungkin hanya menunggu waktu. Atau sebenarnya sudah terjawab tapi sayanya yang belum sadar.
Pada akhirnya, ada juga perpisahan yang tidak saya tangisi, tapi tetap memiliki rasa. Ya, netes sedikit nggak apa-apa lah ya.. itu namanya mau menunjukkan rasa sayang, kalau mereka sudah saya anggap saudara kandung. Ini sih mungkin yang namanya sedih, tapi juga bahagia melihat mereka melangkah sesuai pilihan.
Semoga semua bahagia, dunia dan akhirat. Aamiin.
Minggu, Maret 04, 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 any question or statement?:
Posting Komentar