Minggu, Maret 11, 2018

Diposting oleh ghea utari di Minggu, Maret 11, 2018
Buka social media, isinya makin aneh-aneh.
Bukan social medianya sih, melainkan teman-temannya.

Ada yang foto sama anak, lagi ngedugem, jalan-jalan, makanan..

Paling bingung kalau sudah ada yang posting panggung beserta keglamorannya, dan itu nggak cuma sekali dua kali diposting.

Saya pernah, karena waktu itu ada Project Pop di acara kantor. Sudah, itu saja.

Walaupun suka musik, saya nggak tahu siapa pemusik favorit. Jenis musik apa yang saya suka. Buat saya, bagus semua, yang penting itu literally musik, bukan ajang pamer yang lain, kebohaian misalnya.

Walaupun akhir-akhir ini jadi suka nonton film, saya masih nggak paham di mana letak jeleknya film-film Indonesia sampai-sampai beberapa teman memilih tidak menonton. Menurut saya, film luar negri atau pun dalam negeri punya kualitasnya masing-masing. Jadi kalau disuruh milih suka nonton film apa, suka - suka saja, asalkan bikinnya yang niat, punya nilai untuk disampaikan.

Ketika seseorang bisa bilang jelek terhadap sesuatu, biasanya standarnya lebih tinggi sampai-sampai mereka terlalu memuja si standar itu. Sampai-sampai mereka rela membeli tiket konser mahal atau nonton film premier atau pre order handphone yang mereka bangga-banggakan itu.

Awalnya saya berpikir saya berbeda karena punya pengalaman kehilangan. Takut apa yang dibanggakan lenyap. Setelah saya pikir-pikir, nggak deng. Saya memang tidak terlalu suka fokus terhadap satu hal, karena terlalu fokus terhadap satu hal membuat saya lupa sesuatu.

Misalnya ketika pelajaran mikroekonomi. Saking enaknya dosen yang mengajar, saya terlarut dengan apa yang dia bicarakan. Tahu-tahu saya pusing. Merasa dunia berhenti. Izin keluar. Menghirup udara. Lalu sadar, dunia masih berputar. Ada waktu dalam diri yang berhenti ketika kita terlalu mengagungkan sesuatu. Padahal, waktu di dunia terus berjalan. Ada yang tertinggal. Dan semuanya bisa kembali ketika mengambil wudlu, waktu itu bisa dipegang kembali.

Bayangkan, terlalu fokus di kelas saja membuat saya mual, apalagi nonton konser yang pemusiknya di atas lalu kita teriak-teriak dibawah seolah-olah kita sedang memuja mereka, seolah-olah permasalahan hilang dengan teriak-teriak, seolah-olah.. mereka tuhan kita.

Saya berbeda, saya menyukai itu karena yakin tidak ada yang salah dengan prinsip itu, tapi tidak juga melarang siapapun. Hidup mereka, takdir mereka. Hidup saya, ya, seperti ini. Mau dibilang kudate atau nggak bersosial atau keras kepala, terserah, selama tidak ada yang dirugikan.

Ciledug, 11 Maret 2018
02.25 WIB

***

Mau nonton Dangal, eh salah malah nonton PK. Tapi bagus juga sih, top sejajar tri idiot.

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei