Dari kemarin merasa banyak yang aman. Saya selalu tidak tenang dengan suasana yang aman. Logikanya, roda berputar. Setelah aman, ada bahaya. Masalahnya hanya di seberapa besar risikonya, atau setidaknya, seberapa baik persiapan kita.
Beberapa hari yang lalu akhirnya tidak aman, seperti yang sudah saya duga. Beruntungnya, ada kepastian bahwa ujian tidak mungkin lebih besar dari yang kita bisa.
Sampai di akhir hari, ada saja aneh-anehnya. Mulai dari kunci mobil kesasar masuk ke tas lain, tas lain itu dibawa teman, naik gojek, lalu hujan.
Anehnya, saya menikmati. Menikmati setiap tetesan hujan itu, seperti berkah pelebur dosa. Si tukang gojek berhenti, "mau pake jas hujan dulu neng?" Nadanya galak. Saya pakai jas hujan itu. Lalu dia memasangkan kancing jas hujan seperti sedang memasangkan ke anak saya sendiri.
Hari itu saya sadar, kalau kedodolan bisa saja ngga hanya mempersulit diri sendiri. Bisa juga menyulitkan orang lain. Kalau saja saya nggak lupa naruh kunci, saya nggak akan kehujanan, dan si bapak ini bisa tenang di rumah.
Tidak apa, untuk pelajaran. Mungkin Tuhan juga sedang memberi pemahaman ke bapak ini, yang saya tidak tahu apa. Dan tentunya pelajaran untuk saya juga.
Lagi-lagi bersyukur. Pelajaran utamanya, kalau ada sesuatu yang meleset, ntah karena kesalahan kita atau bukan, tenang, pikirkan, dan nikmati. Nggak ada yang salah, nggak ada yang benar. Hidup kita bukan disetir dari omongan orang. Karena manusia juga bisa jadi kadang buruk, kadang menguntungkan. Kita nggak pernah tahu.
Itu kah yang namanya Husnudzon?
Ternyata punya pikiran positif itu menyenangkan.
Sabtu, Maret 24, 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 any question or statement?:
Posting Komentar