Kemarin habis ngeliat video psikopat lalu saat ini saya bertanya-tanya, mengapa baru kali ini saya sebegitu ketakutannya melihat sebuah video. Saya tidak terlalu khawatir dengan makhluk tidak terlihat. Yang saya takuti justru adalah makhluk yang nampak.
Kembali ke pertanyaan: kenapa saya sebegitu takutnya melihat sebuah video? Analisis saya.. hmm.. mungkin karena
1. Si makhluk nampak melakukan kejahatan #1, yakni membunuh orang
2. Si makhluk nampak melakukan kejahatan #2, yakni mencincangnya
3. Dan.. oke.. ada kejahatan lainnya yang makin nggak etis banget kalau saya tulis.
Intinya.. ketakutan itu muncul kalau hal yang tidak wajar terjadi, dan makin takut jika hal yang tidak wajar terjadi lebih dari satu kali... apalagi jika berkorelasi.
---
Habis lihat video di youtube lagu yang ada isinya anak kecil bergelinjang ke sana kemari. Harusnya kalian tahu ini video apa. Berkali-kali saya tonton, saya nggak dapet logika dasar kenapa orang bergelinjang dibilang keren. Apa manfaatnya? Di mana seninya? Apa yang membuat orang lain melihat video klip itu dan sejenisnya menjadi keren? Sejenisnya yang lain misalnya mencoret-coret wajah, menggunakan kostum "unik", lalu lagi-lagi menggelinjang.
Analisis saya:
1. Mungkin awalnya mereka bagus murni. Lalu dapat sponsor. Mereka kelebihan budget
2. Akhirnya video mereka diputar lebih sering dari video-video biasanya
3. Sudah defaultnya kita melihat sesuatu yang sering dilihat orang sebagai sesuatu yang "populer"
4. Bagusnya video itu semu. Kebanyakan orang mungkin suka karena video itu sering diputar, lalu melihat kolom komentar, oh banyak yang suka, akhirnya tersugesti
---
Tiba-tiba inget soal beberapa upacara adat di Indonesia. Katanya, kita harus mewarisi dan menghargai adat istiadat. Contoh: lempar kepala kerbau ke atas gunung. Atau... upacara pernikahan. Okelah kalau memang di agama mereka mengajarkan seperti itu. Tapi jika di agama mengatur adanya Tuhan Yang Maha Esa, buat apa ikut-ikutan "melestarikan" Tuhan orang lain? Antara menghargai dan melestarikan itu beda jauh bukan? Kalau saya ikut melestarikan, berarti saya tidak menghargai kepercayaan saya sendiri.
---
Saya jadi ingin ikut pengajian. Why?
Seperti contohnya si video menakutkan itu. Kenapa saya takut? Karena hal-hal nggak wajar terjadi lebih dari sekali dan berelevansi. Gimana kalau kita balik? Saya nggak mau jadi takut. Saya mau jadi berani. Mau nggak mau saya harus diberi nasihat nggak cuma sekali, tapi lebih dari sekali, biar bisa mencari korelasi antara nasihat-nasihat itu untuk mendukung saya berubah jadi pemberani, biar tersugesti juga untuk berani.
Seperti contohnya video menggelinjang tadi. Sebenarnya video itu tidak memberi manfaat. Tapi orang lain bilang itu keren, dan video itu diputar terus, jadi kita kalau ga kuat iman akan bilang itu video juga keren. Nah, yang aneh aja bisa dibilang keren, tapi untuk belajar agama kitanya disugesti untuk males? Yang aneh keliatan keren, yang keren harusnya bisa keliatan lebih keren lagi.. kalau dia diputar lebih sering dari yang aneh, dan diberi komentar yang lebih positif lagi dari yang aneh.. nah, kayaknya pengajian adalah tempat di mana saya akan sering mendapat nasihat dan sering menerima komentar positif soal pengajian.
Hati ini sudah terlalu kering. Sedang butuh dibahasi. Biar bunga-bunganya mekar lalu indah dilihat orang.
Pertanyaan berikutnya: ngaji di mana yak yang enak?
---
Lagi di ruang meeting, direksi operasional saya dateng. "Eh, kamu.. kok saya lupa sama kamu. Kamu yang dari pwc kan? Siapa nama kamu?"
Lalu direksi pemasaran yang tidak lain adalah adiknya sendiri datang. Si direksi operasional ngomong ke si direksi pemasaran "Lu inget nggak siapa ini?"
"Inget lah.. ghea kan? Udah sering ketemu di finance."
Ini hanya cerita kecil. Masih banyak cerita yang menunjukkan mereka-mereka ini care sama kita-kita yang ada di "bawah" mereka.
---
Udah akhir bulan.

0 any question or statement?:
Posting Komentar