Rabu, Maret 23, 2016

Pertimbangan

Diposting oleh ghea utari di Rabu, Maret 23, 2016
Salah satu alasan mengapa saya resign adalah karena saya mau mengurusi bisnis keluarga. Itu fakta.

Saya suka mengajar, akuntansi dan matematika, anak kecil dan anak besar. Itu fakta.

Saya sudah merasa involve di salah satu jurnal di kampus. Itu fakta.

Dari 8 semester kuliah, saya paling senang dengan semester 8, karena ketika itu yang saya kerjakan hanya masuk kelas untuk satu mata kuliah, mengurusi jurnal, membantu riset, dan SKRIPSI. Saya suka penelitian. Itu fakta.

Saya ingin melanjutkan kuliah di luar negeri lalu kembali ke sini dan menjadi dosen. Itu fakta.

Permasalahannya, untuk menjadi dosen di almamater sendiri itu syaratnya dua: 1) kuliah di luar negeri dan 2) menjadi asisten dosen selama dua tahun. Syarat kedua sudah fail berkali-kali. Probabilita menjadi dosen menjadi sangat kecil. Sementara, kalau mau jadi dosen di kampus yang lain, kuliah di luar negeri bukanlah sesuatu yang urgent. Oke, kita turunkan ego saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.

Masuk ke realita, bahwa probabilita menjadi dosen adalah kecil, kegemaran dalam meneliti pun nampaknya harus disimpan dulu. Ada sedikit perbedaan mindset antara ranah penelitian dan dunia kerja pada umumnya. Walaupun sama-sama ada deadline, namun penelitian sifatnya lebih fleksible namun mendalam. Fleksible dalam artian kita tidak terlalu dikejar deadline, setidaknya karena itu adalah penelitian kita, atau setidaknya karena orang yang bergabung dalam penelitian tidak terlalu banyak, jadi lebih mudah untuk mengatur waktu. Lagi pula penelitian butuh analisis yang sebegitu mendalam sehingga terburu-buru malah bisa jadi merusak hipotesis yang sudah dibangun.

Berbeda dengan ketika berada di dunia kerja. Deadline berubah jadi tekanan ketika banyak pihak menuntut semua tersedia dengan cepat. Bukan karena apa-apa. Dalam suatu pekerjaan, banyak pihak yang terlibat. Satu orang terlambat, yang lain pun akan ikut terlambat. Bukannya tidak perlu berpikir terlalu mendalam ketika bekerja, namun yang dicari adalah bagaimana penyelesaian masalah langsung tepat sasaran tanpa harus mencari teori yang terlalu mendalam di BAB 2, dan menganalisis secara deskriptif pada BAB 4. Langsung saja buat rumusan masalah, apa yang diketahui tentang masalah itu, bagaimana cara menyelesaikannya, dan langsung saja buat analisis sesuai dengan rumusan masalah. Kalau kata seorang om, yang penting action. Kalau lama ber-action, bisa ketinggalan. By experience, pengambilan keputusan bisa dilakukan lebih cepat kok.

Kembali ke topik utama kali ini.

Karena probabilita menjadi dosen adalah kecil, kegemaran saya dalam meneliti harus disimpan dulu. Mau nggak mau, saya harus membangun mindset untuk bekerja, dan menyimpan dulu mindset penelitian.

Ada satu lagi fakta yang belum disebutkan, bahwa saya ingin menikah. Uang memang bukan segalanya dalam pernikahan, tapi pasti kalian sering mendengar bahwa kebanyakan rumah tangga menjadi goyah karena permasalahan ini. Bukannya terlalu mengejar materi, namun saya tidak mau takut akan kekurangan uang. Yang saya mau, uang takut untuk menghalangi saya mencari pahala. Mohon dibedakan. Toh, semakin banyak bersedekah, semakin banyak yang terbantu. Bagaimana caranya bisa banyak bersedekah jika kebutuhan rumah tangga sendiri masih saling berkejar-kejaran?

Nah permasalahan yang terakhir ini, nampaknya tidak bisa diselesaikan dengan mengajar dan mengurusi jurnal. Itu yang saya rasakan selama 6 bulan ini. Belum lagi, ilmu akuntansi yang jadi tidak terlalu terpakai. Padahal, saya masih ingin menjadi dosen, walaupun bukan di almamater sendiri. Kalau saya belum bisa melanjutkan S 2 karena biaya yang belum ada, berarti mau tidak mau saya harus menempuh pendidikan akuntansi saya di jalur lain, yakni dengan bekerja. Jadi, walaupun tidak punya ilmu dari pendidikan S 2, saya bisa jadi dosen yang mempunyai ilmu dari pengalaman bekerja.

Sebenarnya masih ada pilihan untuk bekerja di pemerintahan seperti yang saya impikan. Bekerja di pemerintahan, selain mendapatkan ilmu, saya pun bisa mendapatkan kesempatan melanjutkan S 2. Namun, birokrasi sekarang masih belum pasti. Pemerintah masih sibuk membangun "pondasi". Baiklah, saya hargai. Berarti, bekerja di pemerintahan memiliki probabilita 50:50, belum pasti buka. Move ke pilihan yang lain.

Bekerja di swasta. Baiklah, yang penting dua: 1) Lokasinya bukan di ibu kota dan dekat dengan rumah, 2) Gajinya minimal dua kali UMR. Nggak mau naik commuter lagiiii. Waktu di hidup saya terbuang 4 jam di perjalanan jika harus ngoyo kerja di ibu kota. Satu tahun cukup. Yang kedua, gajinya minimal dua kali UMR. Kalau nggak, habis buat transport, makan, dan belanja bulanan (termasuk utilitas dan pulsa handphone). Kalau habis, nggak ada buat nabung untuk menikah.

Yaaa gitu deh, kenapa akhirnya saya memutuskan untuk bekerja lagi. Semoga bisa mengemban tanggung jawab baru. Alhamdulillah dapat pekerjaan yang sesuai bidang. Awalnya ditawarkan di posisi Internal Audit. Namun, setahu saya, internal audit lebih ke arah compliance dibandingkan akuntansinya. Bukan nggak mau, tapi khawatir jadi nggak maksimal karena saya sudah terlanjur senang dengan akuntansi setelah bekerja sebagai Eksternal Auditor. Alhamdulillah tapi masih dipertimbangkan di Finance & Accounting nya. Huhu.

Sujud syukur banget begitu tahu lokasinya dekat dengan rumah dan gajinya mencukupi. Lebih bersyukur lagi karena lingkungannya insyaallah islami. Huhu. Alhamdulillah..

---

Maka nikmat Tuhanku yang mana lagi yang kamu dustakan?

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei