Dari awal pernikahan saya sudah paham, walaupun tabungan saya sekiranya tahun depan cukup untuk dp rumah di tempat yang saya impikan, tidak akan secepat itu saya bisa mewujudkannya.
Walaupun saya suka jalan-jalan nyasar, tidak akan sesering itu lagi perjalanannya (atau malah tidak pernah lagi sama sekali?).
Walaupun kalau ketemu fikka yang kita obrolkan adalah harga minyak, kalau ketemu tyas yang kita obrolkan adalah jenis investasi, kalau dengan teman-teman analis yang kita obrolkan adalah strategi bisnis, tapi pembicaraan di rumah tidak lah akan se rumit itu.
Terlihat berbeda? Ya, signifikan. Tapi apalah arti semua itu, kalau sesungguhnya yang dibutuhkan hanya tempat untuk bersandar.
Tidak muluk-muluk, dan saya memang tidak pernah muluk-muluk keinginannya. Doa jangka pendek saya, semoga kakak bisa lahir dengan sehat wal afiat dan jadi anak soleh/solehah.
Kemarin sempat sedih, waktu cek panggul, saya takut. Saya fikir cek panggul itu apa, ternyata dua jari sang dokter dimasukkan ke kemaluan saya, lalu diraba apakah ada sumbatan di liang panggul dan apakah panggul saya cukup besar untuk dilewati kepala kakak.
Saya takut, jadi tidak berhasil. Dokter gemas. "Tadi baru satu ruas jari lho, nanti kalau kepala dedeknya 9 cm, kira-kira se lebar ini"
Saya jadi merasa bersalah. Kenapa saya jadi penakut seperti ini?
---
Pulau Kakaban, Kalimantan Utara, 2015.
Di sana ada sungai, sejuk sekali. Kami semua menguji adrenalin dengan lompat dari tebing setinggi 2.5 meter. Pijakan kami hanya muat satu kaki, jadi kaki kami menumpuk dalam satu batu.
"Ga usah mikir apa-apa, Ghe. Lompat aja"
Tubuh saya bergetar hebat. Lompat di kolam renang saja tidak berani, apalagi ini? Di bawah itu sungai yang dalamnya 3 meter. Kalau saya salah jatuh pun, ada kemungkinan saya tersangkut di akar pohon.
"Ghee.. ga usah mikir apa-apa", teman saya yang juga bernama Gea meneriaki saya sekali lagi. "Cuma sekali ini, Ghe. Kapan lagi?" Zahara menambahkan.
Baik, bismillah. Tarik nafas. Ga usah mikir apa-apa. Ga usah diitung. Lompat. Tutup mata.
Byuuurr.. rasanya segar dan seseru itu!
---
"Yas, aku mau jalan lewat pinggir sungai aja. Kamu mau ikut ga?"
Sudah dua jam kami berputar melewati jalan yang itu-itu saja. Ngga ada ide di mana Charles Bridge. Maps di hp kantor tidak cukup akurat untuk mengantar kami, karena kebetulan banyak jalan yang diperbaiki dan kami hanya mengandalkan google offline.
Selalu ada jalan, dan cerita. Siapa sangka kami disuguhkan pemandangan Sungai Vitava yang cantiknya masha Allah..
---
"Jul, cek panggul sesakit itu atau guenya yang lebay ya?"
"Emang sakit banget Ghe. Dan itu menginduksi banget. Fay lahiran 2 jam setelah cek panggul"
"Kok gue takut ya jul mau normal"
"Sering-sering afirmasi positif Ghe, rileks, ngga usah denger kata-kata orang"
---
Apa yang bisa membuat saya rileks?
Suara tawa kakak dan deru langkahnya yang kecil sedang berlari-lari di pinggir Sungai Vitava. Badannya sekal dan sehat. Kerudungnya pink ditutup jaket Uniqlo berwarna biru. Udaranya sejuk sekali. Lalu dia berlari ke pelukan ayahnya. Mereka berdua tersenyum padaku sambil melambaikan tangan. Aku menghampiri sambil mencium mereka, mengajak mereka duduk-duduk sambil minum teh dan menikmati suasana di sana, udara yang tersibak dari mulut, angsa-angsa besar berwarna putih, burung bersautan, kapal mondar mandir, dan orang-orang berbahasa asing sedang bergurau.
Bismillah.. proses kelahiranku berjalan normal, rahimku sudah disiapkan Allah sebagai jalan kakak keluar menghadap dunia. Ketubanku cukup karena aku selalu minum 10-15 gelas setiap hari. Kakak sudah berusaha agar kepalanya bisa masuk panggul dari week 36, jadi aku harus kuat membantunya mengejan.
Bismillah..
Minggu, Maret 10, 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 any question or statement?:
Posting Komentar