Katanya nama minuman itu adalah minuman "pertemanan". Ternyata masing-masing kantor punya minuman "khas" yang berbeda.
Kantor saya yang dulu, mungkin karena kami biasa bekerja sampai pagi, jadi kopi tuh wajib ada. Nggak heran kalau minuman "pertemanan" di sana adalah sekelas minuman kopi cantik starbuck dan sejenisnya.
Heran. Minuman pertemanan aja kenapa harus mahal-mahal. Tapi saya minum juga.
Waktu awal-awal, maksudnya biar naik kelas dikit. Dulu kan waktu kuliah saya suka sekali minum coklat hangat punya indomart stasiun manggarai. Sambil minum, sambil ngeliat orang lalu lalang, duduk di atas tangga kereta, ngeliat ke atas, sambil dengar pemberitahuan kereta melalui pengeras suara. Walau sendiri, tapi rasanya senang. Kalau kereta ekonomi tujuan tanah abang sudah datang, saya lanjutkan minum coklat hangatnya di kereta, sambil ngeliat keluar, ke jalan, bertanya-tanya, ke mana Tuhan membawaku di masa depan? 1 atau 2 tahun lagi?
Biasanya, sampai di Tanah Abang jam 19.40. Krl ekonomi tujuan serpong keberangkatan pukul 20.00 sudah menunggu. Sajiannya setiap malam hampir sama. Saya menyebut mereka sebagai pengamen pinggir rel. Dari adek-adek sampai om-om. Kualitas mereka jangan ditanya. Menghibur sekali!
Niat hati mau naik kelas sedikit, dari cokelat indomart jadi kopi ala kafe. Walau belinya di starbuck juga coklat. Walau coklatnya lebih enak coklat Green T di kampus. Walau harga coklat Starbuck (kala itu) tiga kali lebih mahal dari coklat Green T di kampus. Cuma, katanya minuman "pertemanan". Sambil minum, sambil kerja. Walau, akhirnya saya lebih suka menikmatinya sendiri, sambil liat orang lalu-lalang di stasiun Sudirman.
Suka aja liat orang-orang. Ada yang bajunya sudah luyuh, make up masih tebal, ibu-ibu sosialita bergosip, anak muda dengan tampilan hipster, suara kafe yang cozy diiringi suara pemberitahuan dari pengeras suara dan alunan orang bercakap seperti semut ndak bernada.. sambil bertanya juga, "sampai kapan?" Saya lelah, ntah karena apa.
O iya jangan salahkan saya jika saya tidak lagi menikmati penampilan pengamen pinggir rel. Krl ekonominya sudah ndak ada.
Ternyata jawabannya adalah sampai waktu itu. Sudah nggak perlu lagi bertarung dengan bapak ibu kereta, atau menanti perjalanan yang makan umur. Seiring waktu, minuman pertemanan pun berubah.
Tetap saja judulnya minuman mahal, walau agak lebih murah, dan no caffein. Chatime! Saya senyum-senyum sendiri. Saya baru dua kali seumur hidup minum minuman teh ini. Itu pun yang pertama karena icip punya teman, teman yang bilang bahwa chatime adalah minuman pertemanan. Beli cuma untuk ikut arus sosial, biar nyambung kata teman saya itu sekitar 1 tahun yang lalu. Akhirnya tadi saya beli. Nitip teman. Delivery.
Diminumnya jam 6 sore, sambil buka puasa, sambil nikmatin matahari sore di jalan tol ciledug yang Alhamdulillah nggak macet. Sambil makan kue ulang tahun teman, 1 piece pizza traktiran teman, bakpia dan winkau oleh-oleh dari Jogja.. Buka jendela dikit biar suara adzannya kedengaran. Sayup-sayup lagu semesta dari Maliq melantun.
"Hah.. Sampai kapan?"

0 any question or statement?:
Posting Komentar