Belum pernah saya nonton drakor yang efeknya se personal ini. Habis nonton 25 - 21, solat. Tadinya mau lanjut tadarusan. Tapi pikiran saya masih ga tenang. Masuk kamar, tidur, peluk safa, sampai bangun. Haah.
Kalau udah peluk safa, rasanya jadi tenang. Saya ni default badannya dingin. Safa tuh default badannya panas. Jadi saya butuh safa, safa pun butuh saya, kalau kita sama-sama mau menenangkan diri. Literally.
Tapi kali ini peluk Safa karena literally pengen peluk sih. Sebel banget drakornya terlalu realistis. Drakor itu endingnya disetting ketika pemeran utama (Na Hee Do) sudah berusia 41 tahun. Na Hee Do sedang mengenang penyesalan yang dia lakukan di usia 21 tahun. Yi Jin kala itu berusia 25 tahun.
Drama ini tentang dua orang yang sama-sama saling menyayangi, sama-sama bisa mewujudkan mimpi mereka karena saling mendukung, tapi akhirnya harus berpisah karena nggak bisa membayangkan titik temu.
Padahal, kalau dilihat beberapa tahun berikutnya, sebenarnya banyak life path yang bisa mempertemukan mereka lagi. Dan ga se rumit itu. Tapi itu kan setelah beberapa tahun ya. Misalnya, ternyata Na Hee Do toh nikah di usia 29 tahun dan setelah itu dia juga pensiun jadi atlet. Harusnya setelah itu dia bisa ikut Yi Jin ke New York. Tapi.. di titik di usia 21 tahun, Na Hee Do ataupun Yi Jin nggak bisa membayangkan itu karena mereka nggak tahu apa yang akan terjadi 8 tahun kemudian.
Mungkin kalau saya di usia 21 tahun, saya akan diposisi ga nerima semua itu lalu pergi. Kalau saya lihat dari sisi usia 30 tahun, sekarang saya ada di posisi ga nerima, tapi tahu kalau harus terima. Yang saya ga tahu, apakah nanti di usia 41 saya benar-benar akan bisa menerima semuanya? Seperti Na Hee Do yang sudah menerima semuanya?
Nah bayangan itu yang bikin saya takut dan akhirnya butuh meluk Safa. :')
Inginnya kayak Pak Habibi dan Bu Ainun ya. Tapi realitanya kok banyak yang kayak Na Hee Do dan Yi Jin. Syedih.
Saya masih berharap bisa punya anak laki-laki yang bisa saya didik seperti Pak Habibi tapi lembut seperti Yi Jin. Saya pun berharap Safa bisa tumbuh jadi pribadi yang kuat seperti Na Hee Do, tapi juga cerdas seperti Bu Ainun.
Saya tahu nggak ada yang sempurna. Tapi sebisa mungkin saya mau menjadi orang tua yang baik. Karena pada akhirnya, anak-anak ini nantinya akan besar dan harus membuat keputusan dalam hidupnya. Dan dalam membuat keputusan yang baik itu, mereka harus bisa berpikir dengan baik dan punya mental yang kuat. Karena yang namanya keputusan, nggak akan ada yang 100% benar. Mental untuk menerima sekian persen kesalahan itu yang ga semua orang punya.
"Sesungguhnya manusai diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir" Al-Ma'arij : 19.
"Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian" Al-'Asr : 2
Jadi saya selalu merasa amaze ketika ada orang yang bisa-bisanya nggak mengeluh ketika mereka lagi sedih. Sebaliknya, mereka bisa kuat. Saya selalu bertanya-tanya, kok bisa sih? Apa mereka punya supporting system untuk selalu mengingatkan bersabar dan tetap solat? Apa mereka bisa ingat sendiri? Gimana caranya mereka bisa ingat sendiri? Gimana cara mereka dididik? Saya selalu penasaran soal ini. Selama jawabannya belum ketemu, i just do my best as a parent. Karena sekalipun saya bisa, jawabannya baru terlihat ketika anak-anak saya tumbuh besar dan membuat keputusan.

0 any question or statement?:
Posting Komentar