Awalnya pembicaraannya enak, tapi akhirnya "Itu si anu udah beli rumah. Dia bilang zaman sekarang kalau nggak ngutang mana mau punya rumah. Sodara-sodaranya randi mau ke rumah randi tapi bukan ke rumah mertua.."
Posisinya di hari itu adalah.. itu hari ulang tahun safa dan again, ga ada satupun yang inget. Baru ingat setelah saya kirim nasi kotak. Baru nelfon juga setelah itu. So, if they dont care about us, why do i have to care?
"Wah bu, sekarang buat bulanan aja dari gajinya mas randi kami masih ngos-ngosan, apalagi harus ngutang. Udah dulu ya, bu. Saya lagi meeting. Udah ditungguin dari setengah jam yang lalu"
End.
Yap, jantung saya berdetak keras lagi setelah itu. Ada perasaan sebal. Apakah saya lega habis bicara seperti itu? Tentu tidak. Apakah menyesal? Sama sekali tidak. Saya hanya tidak mau diatur-atur. Apalagi yang mengatur adalah orang yang nggak bisa mengatur hidupnya sendiri, hanya berjalan mengikuti apa kata orang.
Butuh sekitar 15 menit untuk menenangkan tremor saya. Yang saya masih belum terima, "Kenapa hal ini harus dibicarakan kepada saya? Bukan anaknya sebagai kepala rumah tangga?".
Setidaknya secuplik yang saya rasakan sudah berhasil saya ungkapkan dan saya sudah berani mengakhiri perbincangan sia-sia.

0 any question or statement?:
Posting Komentar