Tadi pagi emosi saya nggak stabil lagi. Perkaranya sepele. Ibu saya mukanya masam dari pagi. Ditanya, jawab seadanya. Akhirnya saya angkat bendera putih perkara mau sarapan apa.
Dari kemarin, saya merasa mulai radang tenggorokan. Nggak enak makan yang goreng-goreng. Jadilah saya mau beli bubur. Ibu saya nggak mau beli, dengan jawaban "Mama mau masak nasi goreng, biar hemat".
Apa mah?
"biar hemat. sayang uangnya"
Aku lebih sayang kesehatanku.
Mungkin kalau muka ibu saya nggak masam, jawaban itu akan saya anggap biasa saja. Tapi karena ibu saya mukannya masam banget, jawaban itu saya tangkap semacam "kok boros banget sih? udah tau nggak punya duit". Dan di otak saya semacam menjawab "Ya Allah, 20ribu buat beli bubur .. kalau 30 hari saya makan bubur berturut-turut pun saya hanya keluar 600rb. Saya masih ada uang segitu.."
Belum lagi saya jadi mengingat-ingat penyebab Safa sakit. Ini cuma gara-gara ibu saya beli gorengan 4ribu dan Safa dikasih tepungnya aja. Damn. Gara-gara gorengan 4 ribu, harus keluar ratusan ribu dan malam-malam yang nggak tenang. Kemarin mau sembuh, dikasih susu dingin.
Gimana saya ngajarin Safa untuk sabar ?
Saya protes ke Allah. Ibu kan harusnya ada untuk pendukung, bukan malah jadi setan yang suka goyahin iman. Bukan jadi penghancur impian. Bukan jadi mamaknya malin kundang yang suka ngutuk anaknya tanpa instrospeksi kenapa anaknya begitu.
Saya tahu emosi saya nggak stabil. Akhirnya saya keluar naik motor.
Di jalan, saya nangis nggak karuan. Semacam memori-memori jelek bangun lagi. Lalu tiba-tiba.. sepertinya tiga kali saya hampir mau tertabrak. Pertama, karena ada mobil yang ngebut dari arah kiri. Lalu ada motor nyalip. Dan terakhir, ada truk ngebut-ngebutan.
Awalnya saya bingung, ke mana tujuan saya. Lalu saya teringat, Bani Umar. Saya pergi ke sana. Di sepanjang jalan, saya seperti ngobrol dengan diri saya sendiri.
Sudah berapa kali Allah menyelamatkan saya atas kebodohan saya. Kalau bukan karena Allah, mungkin saya sudah terseret truk ugal-ugalan tadi. Apa Allah saja nggak cukup?
Nggak, nggak cukup. Allah memang dekat. Tapi kenapa Allah menjadikan orang-orang terdekat saya yang membuat saya "sekarat"?
Nggak ada jawaban.
Sesampainya di masjid, melihat Bani Umar seperti ini, saya jadi teringat masa-masa menyendiri di sini. Bau rumputnya, rasa tenangnya. Ambil wudlu, solat dhuha, dan melanjutkan baca Al-Kahfi, sambil nangis sesenggukan. Nggak ada orang di sana. Para marbot lagi sibuk membersihkan karpet. Seperti biasa, mukena di sana bersih dan wangi.
Selesai membaca Al-Kahfi, saya turun. Lalu terdengar suara deru mesin pemotong rumput, burung-burung yang berkicau, suara mobil yang sesekali lewat, suara orang - orang yang sedang bercakap.. sejenak, frekuensi otak saya menurun. Semacam ada yang lepas.
Di perjalanan pulang saya mencoba "mendengarkan" lagi, tapi yang lebih dominan hanyalah deru kendaraan. Ah, ini ya, kenapa ada orang yang hobi bersepeda. Setidaknya dia nggak mendengar deru kendaraannya sendiri.
Saya nggak tahu apa jawaban dari pertanyaan saya tadi. Yang pasti, hal itu membuat saya takut melepas Safa di lingkungan ini. Tapi saya pun takut ketika saya stres dan akhirnya Safa yang jadi pelampiasan. Apa yang harus saya lakukan?
Baiklah, sepertinya jawaban sementara adalah.. "Cukuplah Allah sebagai pelindung". Percaya dulu sama Allah.
Motor saya pelankan biar saya bisa lebih mendengar keadaan sekitar. Ya, ternyata otak saya jadi lebih plong. Di rumah pun saya coba matikan AC. Otak saya jadi jauh lebih plong.
Oh, pantes ya Safa akhir-akhir nggak suka diajak jalan-jalan naik motor. Kita yang orang gede ini kan bisa aja bengong di jalan, jadi nggak sadar kalau suara motor tuh ternyata berisik banget. Sementara otak Safa masih "kosong", nggak bisa bengong. Yang dia dengar adalah suara berisik motor.
Maafin mama lagi ya, kak..
---
Ini hari Jumat. Saya selalu was-was untuk bangunin pak suami solat jumat. Dia shift malam, dan sering banget kelewat sholat Jumat. Hari ini pun saya telfon nggak diangkat.
Saya cuma bisa menghela nafas, dan wondering.. Bener nggak ya kalau nggak solat jumat lebih dari tiga kali bisa masuk neraka? Kalau suami masuk neraka, saya ketarik juga nggak ya?

0 any question or statement?:
Posting Komentar