Jumat, Mei 03, 2019

Diposting oleh ghea utari di Jumat, Mei 03, 2019
8 tahun yang lalu, selepas kepergian ayah, saya stres sendiri. Merasa sepi. Lalu tiba-tiba saya seperti diperlihatkan, mana yang baik dan buruk, mana yang tulus dan tidak.. lalu saya memutuskan untuk tidak mau ikut geng mana-mana, biar mengalir saja siapa yang nantinya akan bareng-bareng berjuang.

Lalu saya tiba-tiba punya fobia kematian. Lalu semua masalah seperti menumpuk-numpuk.

Habis ashar dengan teman saya, Iqbal, kami menuju ke salah satu tempat makan lesehan dekat kosan. Di sana Rully juga sudah menunggu.

"Tanatophobia. Itu sebutan untuk orang yang punya fobia kematian." Kata Rully.

"Ga ada yang bisa bantu lu selain dirilu sendiri, Ghe" kata-kata Iqbal pun bikin menohok, karena itu satu-satunya jawaban kenapa saya ndak bisa tenang walau sudah curhat ke sana ke mari. "Mau orang lain bilang A, B, C, kalau bukan dirilu sendiri yang berubah, ga akan manjur"

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei