Sudah lama memang nggak menulis. Iseng mau nulis di kompasiana lagi. Ketika saya buka-buka artikel lawas, bahkan artikel enam tahun yang lalu, saya tercengang sendiri. Wow, filosofis sekali saya dulu!
--
Beberapa bulan yang lalu, ada potential review lagi di kantor. Prosesnya sama persis seperti tes masuk, namun ditambah business case, presentasi project, dan FGD. Lalu beberapa hari yang lalu hasilnya keluar.
Positif dari saya,
1. Kritis
2. Pemikirannya luas
3. Keingintahuan yang tinggi
4. Mampu mengenali masalah dan alternatif solusinya
5. Peduli dengan tim
Negatifnya
1. Planning dan Organizing yang belum tersistem, serta pelibatan emosi di dalamnya
2. Leadership yang masih kurang, terutama untuk mengembangkan subordinat
3. Kurang ambisius dalam konteks prestasi
Untuk sisi negatif nomor satu dua mungkin bisa saya latih, namun negatif nomor tiga perlu saya cari:
1. Apa tujuan utamanya ambisius?
2. Apa manfaat ambisius?
3. Apa definisi ambisius?
Tulisan-tulisan saya sejak enam tahun yang lalu di kompasiana menggambarkan bahwa dulu saya adalah orang yang terlalu dalam ketika berpikir (terutama tentap konsep ketuhanan), punya idealisme, terusik dengan ketidakseharusan, dan berambisi... menjadi pegawai pemerintah.
Apa yang berbeda dengan saat ini? Bisa dikatakan, hampir semuanya berubah.
Apa yang berbeda? Mungkin perjalanan.
Dulu perjalanan saya dekat dengan pemandangan rumah-rumah pinggir rel di stasiun tanah abang, menjadi guru di Masjid Terminal pun membuka mata saya bahwa banyak anak-anak yang punya cita-cita dan didukung dengan potensi diri namun punya keterbatasan, menjadi komite di Sekolah Non Formal menuntut saya untuk bisa mendengar suara orang tua dengan keterbatasan ekonomi, dan ketika pulang dengan krl ekonomi, deru kereta, malam, dan angin di pinggir pintu seringkali mengajak saya berfantasi dan meresapi konsep Tuhan.
Belum kalau saya menyasarkan diri. Seluruh indera saya digunakan, termasuk hati. Semacam ada arti dewasa yang berbeda, yang lebih mendalam.
Apa yang berbeda? Mungkin orientasi.
Dengan pemandangan dan pengalaman itu sehari-hari, bagaimana saya tidak terusik dengan ketidakseharusan? Saya mau jadi Pegawa Negeri, yang baik, dan mengabdi.
Bagaimana sekarang?
Perjalanan saya terlalu dekat, hanya 12 km dari rumah dengan mengendarai mobil setiap hari. Sama seperti dulu ketika saya sempat mengendarai mobil setiap hari ke kampus, rasanya ya.. gitu-gitu saja. Tidak ada yang hidup. Tidak ada lagi pemandangan pinggir rel atau hiruk pikuk pekerja kantoran dengan berbagai gayanya. Tidak ada lagi berbicara dengan orang asing yang baru saya jumpai di jalan.
Bagaimana sekarang?
Tidak ada waktu untuk menyasarkan diri dan menggunakan indera saya.
Lalu apa yang saya butuhkan? Saya inginkan? Menyasarkan diri, atau mengaktifkan segala indera saya?
Sabtu, November 03, 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 any question or statement?:
Posting Komentar