Minggu, Mei 20, 2018

Diposting oleh ghea utari di Minggu, Mei 20, 2018
Berawal dari mimpi saya beberapa bulan yang lalu, lalu beberapa peristiwa bom yang terjadi, sampai berita amerika akui yerussalem sebagai ibu kota israel, membuat saya banyak kepo. Lalu iseng buka google maps, ternyata ga ada negara Palestina di google maps. Wasap jege, malem-malem nanya random ini semua kenapa, secara doi jurnalis cnn kan, jadi mungkin tau banyak. Habis dijelasin, makin pusing.

---

Semacam ada yang nggak masuk logika. Beberapa orang yang pernah mau ikut ISIS bilang karena mereka lihat dari internet kehidupan di Syiria sudah baik, fasilitas kesehatan memadai, dan yang lain-lain. Akhirnya mereka memutuskan pindah ke sana. Sampai sana, ada yang akhirnya jadi "pejuang", tapi ada juga yang nggak betah. Gimana mau betah kalau setiap hari ada suara peluru, lihat orang "kafir" dipenggal kepalanya, dan lain-lain?

Pertanyaannya, kenapa orang-orang ini mau pindah? Karena di sana nyaman, atau karena di sini yang tidak nyaman? Sama pertanyaannya seperti ketika perempuan nerima laki-laki, karena dia merasa dia akan nyaman dengan si laki-laki ini, atau karena dia tidak nyaman menjomblo?

Pertanyaan yang hampir mirip, tapi beda sebab dan efeknya.

Kalau karena di sana nyaman, pertanyaan berikutnya : benarkah demikian? Memang definisi nyaman seperti apa? Kebutuhan dasar dipenuhi? Kalau hanya itu, Amerika sepertinya lebih menarik. Atau karena "syariat Islam" berdiri tegak di sana? Misalnya, tidak ada  acara senonoh, wanita berkata pelan, setiap bertemu berucap salam.. aih.. itu dunia atau surga? Atau mereka menginginkan dunia yang seperti surga? Kalau ada tempat di dunia ini yang seperti surga, buat apa dunia dan surga diciptakan?

Atau kemungkinan kedua, karena di sini tidak nyaman? Kembali lagi definisi tidak nyaman: karena merasa mereka tidak sanggup beradaptasi di sini sehingga mereka tidak nyaman? Maksudnya, sudah berusaha tapi tidak betah aja gitu dengan Indonesia dan keberagamannya.. kenapa merasa begitu? Apa pemerintah kurang adil memeratakan ekonominya? Kesehatan? Pendidikan?

Tahun depan sudah pemilu lagi. Sudah, yang mau nyalonin presiden nggak perlu muluk-muluk janjinya. Sebatas pemerataan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur saja yang ditepati. Kalau budget tiga kebutuhan itu diperbesar, insyaallah masyarakat bisa sehat, pintar, dan punya kehidupan.

Sehat pikirannya, agar bisa membedakan dunia dan surga.
Pintar bersosialisasi, sehingga nyaman beradaptasi.
Dan punya kehidupan: bisa makan biar sehat, bisa ngobrol biar bahagia, dan bisa sekolah biar punya cita-cita.

Cita-cita yang bagaimana yang baik? Mati sahid? Ya, itu cita-cita yang mulia sih. Tapi, hidup di dunia ini hanya sebentar, sementara. Nggak ada jalan ekspres dengan bom bunuh diri lalu masuk surga sebelum amalan baik kita lebih banyak dari amalan buruk kita. Dan amalan baik itu kita pupuk hari demi hari dengan bekerja lalu menafkahkan sebagian penghasilan, membahagian orang tua, keluarga, dan sekeliling kita, dan masih banyak lagi amalan-amalan yang bisa kita pupuk selama punya kesempatan hidup.

Kecuali kalau negara kita dalam status perang ya. Misalnya korea utara tiba-tiba nyerbu Indonesia. Wah itu sih baru pasang badan. Tapi ya kalau masih aman-aman aja, berarti kita bisa dapetin pahala dengan cara lain.

Semoga seluruh umat manusia dilindungi Allah SWT, yang baik diselamatkan, yang jahat dilenyapkan dengan tidak tenang. Aamiin.

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei