Kemarin saya datang ke pernikahannya Tami, saudaranya Pungky. Acaranya jam 8, selesai jam 11 siang, di hari Jumat. Subhanallah, ya?
Resepsinya sederhana, gaunnya sederhana, yang datang betul-betul kerabat terdekat. Seneng, ya?
Kemarin baca ceritanya eros S07. Menikahnya malah di KUA saat hari kerja. Syukurannya sederhana, bahkan teman satu bandnya tidak ada.
Dulu pun pernah dapat cerita dari kawan, temannya mau melamar anak pak ustaz. Hanya sehari, lalu besok sudah akad.
Bu Dina pun tidak ada resepsi. Habis akad, bagi-bagi nasi kotak ke anak yatim, lalu selesai.
---
Urusan pernikahan seperti kebanyakan orang pada umumnya malah membuat saya jadi terpaku pada susunan acara, tetek bengek perlengkapan make up soundsytem, dan hal-hal lainnya yang tidak berurusan dengan kehidupan rumah tangga itu sendiri. Bikin saya tiba-tiba takut, sebenernya justru yang saya belum siap adalah mengurusi si kehidupan itu nantinya: nanti mama sama siapa, mau punya rumah di mana, nanti kalau saya kerja siapa yang merawat anak, kalau pulang kampung bagaimana caranya biar adil, gimana caranya nggak perlu sering-sering ikutan arisan keluarga tapi tetep ngejalin silaturahmi yang baik sama saudara, apa saya diterima dikeluarganya lillahi ta ala, apa dia diterima dikeluarga saya lillahi ta ala, nanti gimana ngajarin anak solat padahal sayanya sendiri masih sering khilaf, gimana ngenalin ngaji kalau sayanya sering lupa ngaji, gimana nanti suami nuntun saya di agama, gimana nanti kalau hari libur dan jadwal saya selama ini berubah karena harus mengalah, gimana kalau saya ngga mau pergi2 di hari minggu atau hari kerja dan manfaatin hari libur sementara keluarganya kebalikan, banyak yang nggak cocok, takut lebih banyak saya yang mengalah, takut diatur, takut dikekang dengan istilah yang namanya adat.
Otak saya sudah dipenuhi banyak impian: umroh, haji, jalan-jalan keliling indonesia satu tahun sekali, menjelajah luar negri 2 tahun sekali, asuransi pendidikan dan kesehatan anak, nanti anaknya sd di sekolah islam, smp di labschool, sma di sma negri favorit, kuliah s1 dalem negri, s2 luar negri.. tapi takut banyak hal yang ngga bisa tercapai. Takut banget.
Katanya nikah itu ibadah. Tapi mau bikin keluarga yang gimana kan itu visi misi berdua ya? Takut banget banyak yang campur tangan.
H-2 bulan, intinya saya lagi dilanda ketakutan yang luar biasa menjelang hari H, dan males banget buat mikirin printilan pernikahan yang harusnya buat perempuan seusia saya itu jadi hal yang seru untuk dipikirkan, milih baju sendiri, milih tema sendiri..
Ya gitu lah ceritanya.
*brb cari sekolah pranikah
---
Iya, saya bukan Tami, bukan istrinya eros, bukan anaknya pak ustaz, bukan juga bu Dina. Apa cuma bisa pasrah? Apa saya ga boleh milih?
Ayah, enaknya gimana? Bantuin aku, ya, Yah.
Mbah kung, kalau aja dirimu masih ada, aku pasti sering nelfon dirimu untuk minta petuah. Minta semangat. Minta didoain kayak setiap yang dirimu doain ditelfon, "besok jadi penggantinya Sri Mulyani, yo" aamiin.
---
Definisi kehilangan: kamu butuh petuah dari orang yang kamu sayangin, rasanya pengen ke makam buat ngebangunin mereka, tapi nggak bisa.
Sabtu, Februari 17, 2018
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 any question or statement?:
Posting Komentar