Pada dasarnya, saya ini orangnya nggak enakan, nggak bisa bohong, dan kalau udah pusing, maunya melupakan dengan melakukan aktivitas baru.
"Mba ghe kemarin habis pulang langsung tidur?" Tanya Eli
Ini pertanyaan tersulit selama saya kerja di sini. Saya sudah minta Eli untuk pulang aja. Tapi anaknya nggak mau. Padahal saya lagi pusing-pusingnya dan mau nonton.
Alhasil, pas nonton pun ternyata malah makin pusing. Karena nggak enak. Nggak enak sama Eli, nggak enak sama Pak Subakat. *lho kok jadi bawa-bawa Pak Subakat?
Kesalahan terrrrbesar saya selama di sini adalah saya suka banget ngeluh. Suka banget gampang down. Salah banget. Kalau aja kata-kata yang emang nyakitin banget itu nggak saya bawa hati, atau marahnya orang-orang yang nggak ngerti kondisi saya juga nggak membuat saya kacau...
Saya akui bahwa... kinerja saya jadi makin turun. 0. Bahkan minus. "Cuma" gara-gara sering dibilang nggak bisa ngapa-ngapain. Tapi dikasih kerjaan lebih banyak.
Ini secara nggak halus mau minta saya resign? Atau emang saya punya potensi makannya apa-apa ditanya ke saya yang sering dibilang ga bisa apa-apa?
Awalnya saya pikir yang pertama.
Tapi.
Selama 4 bulan terakhir, di otak saya yang muncul adalah pertanyaan pertama. Berkali-kali konsultasi ke Mba Zia. Berkali-kali mau pergi ke psikiater. Tidur jadi cuma bisa kurang dari 4 jam. Sampai suatu ketika, saya yang biasanya nyantai kalau naik motor, tiba-tiba panik, lebih kebawa emosi, lalu kecelakaan. Jidat robek (jadi sekarang saya punya tanda kek herry potter. Mihihi), lutut robek, pergelangan tangan susah buat diputer, kacamata patah, punggung rasanya remuk...
Mau kerja, badan ga bisa diangkat lama-lama. Mau tidur, mimpinya soal kerjaan.
Semenjak itu, saya nggak mau pulang malem. Maksimal jam 17.30. Biar bisa tidur lebih cepat. Kerjaan nggak selesai? Bodo amat. Emang perusahaan mikirin gimana saya overload? Stres?
Kejadian-kejadian semacem beberapa temen yang tumbang, senior yang keguguran, makin meningkatkan ketakutan saya.. Saya mau bahagia.. Berkali-kali bilang mau resign, mama selalu bilang, "Mama terserah Mba Ghea, tapi mama sih udah seneng mba ghea di Paragon"
Memang beberapa bulan terakhir loadnya tinggi banget. Tekanannya. Penerapan sistem di beberapa dc, peralihan dari pencatatan manual ke sistem, gaji yang masih manual, eksekusi pembuatan dua perusahaan baru, audit pertama dari Big 4, sistem budget baru..
Semuanya serba pertama..
Mulai dari pertengahan januari, saya mau pulang cepat, hidup sehat, hidup bahagia.
Tapi...
Ternyata pulang cepat dan nggak ngelembur hari Sabtu juga nggak menyelesaikan masalah. Kerjaan jadi numpuk, dan akhirnya stres juga ketika deadline.
Ku harus apa?
---
Beberapa temen yang dari D3 udah pada apply kuliah buat S1. Ada perasaan shock ketika tau itu. Di sini, analisnya pada S2. Cuma saya dan Mba Anna yang masih S1. Tapi Mba Anna udah 4 tahun kerja, jadi ilmunya lebih banyak. Apa gara-gara ini saya sering dianggep nggak bisa apa-apa ya?
Buka grup alumni. LPDP bukaan... hm. S2 dulu apa ya?
---
Saya biasanya baru nemu ide ketika mau deadline. Kerjaan yang udah ditagih dari November, baru ketemu solusinya dua minggu lalu. Deadlinenya seharusnya kemarin. Tapi tiba-tiba dapet email, ada Training Knowledge. Hmm.
Alhamdulillah deadline boleh diundur jadi besok.
---
Trainingnya sudah dua hari efektif. Yang mengisi adalah Pak Subakatnya langsung. Mantan CEO banyak perusahaan kece. Pernah menduduki 10 orang dengan penghasilan tertinggi di Indonesia. Tapi super duper humble. Setiap hari cuma pakai kemeja putih celana hitam. Kalau ada karyawan masuk ruangan, beliau sendiri yang bukain pintu.
Inti trainingnya adalah bagaimana menjadi Leader, bukan hanya menjadi Manajer.
Di situ banyak hal yang bikin saya ketampar. Saya masih jauh dari kriteria seorang Leader. Jauh banget. Masih gampang stres, yang akhirnya malah bikin nunda pekerjaan, dan akhirnya stres lagi ketika mau deadline.
Hal yang paling membuat saya ketampar adalah salah satu kalimat yang sering banget diulang "Make things happen". Gimana nggak ketampar? Gimana mau make things happen kalau kerjaannya nggak selesai?
Saya nggak selesai karena takut salah. Karena pada dasarnya, saya orangnya perfeksionis. Kalau nggak bisa sempurna, sekalian nggak dikerjain. Perhatiin aja nilai-nilai saya. Kalau nggak bisa dapet A, pasti dapet nilai C. Nilai B cuma untuk mata kuliah yang standar.
Tapi itu nggak bener. Saya salah. Harusnya saya kerjain. Saya lupa. Lampu aja baru setelah 10 rb x gagal barulah ditemukan. Dan 10 rb x itu mereka kerjakan. Nggak ditinggalin.
Karena terlalu banyak ketampar di hari itu, saya butuh penenang juga. Mau nonton.
"Apa yang bikin seorang leader itu great? Mereka adalah orang yang paling terakhir makan, dan mereka adalah orang yang paling bisa menahan diri. Saya ini orangnya suka sekali nonton film dan main kartu. Tapi, karena saya mau mengembangkan perusahaan ini dari 0, saya tahan. Selama 25 tahun, saya nonton film cuma 3x dan berhenti main kartu". Karena menurut penelitian, orang yang bisa nahan diri itu daya juang sama kecerdasannya di atas rata-rata.
Plak.
---
Nonton nggak ya? Oke, ini harus jadi yang terakhir kalinya saya nonton ketika stress. Selanjutnya, saya cuma boleh nonton atau main kartu kalau ada waktu.
---
"Mba ghe kemarin pulang langsung tidur ya?"
Aak. Sebenernya nonton li. Tapi ku ga enak ngasih taunya gimana doong. Tapi aku juga ga bisa bohoong. Tapi.....
"Mm.. iya.."
"Tidur jam berapa?"
"Mm.. langsung tidur"
Serius. Rasanya nggak enak banget.
---
Jadi, mau resign atau nggak?
Bismillah.. kalau emang dikasih kesempatan buat memperbaiki kesalahan dan kontraknya diperpanjang, insyaallah dilanjutin. Tapi kalau memang nggak diperpanjang, juga nggak apa-apa.. bukan karena nggak mau lanjut, tapi karena memang kerjaan saya berantakan banget. There is nothings happen. Saya gagal, kemarin. Saya mau coba lagi, sekarang.
Minggu, Maret 05, 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 any question or statement?:
Posting Komentar