Minggu, Januari 08, 2017

Tahun Baru - NF

Diposting oleh ghea utari di Minggu, Januari 08, 2017
Tahun baru.

Tidur sebentar. Bangun jam 23.50. Siap-siap lihat kembang api. Hm.
Ada apa ini? Kenapa hanya seperti ini? Di mana klimaksnya? Apa jam 12 masih lama?

*lihat jam. Sudah jam 12 lebih.

Ada apa ini? Hai semesta?

---

Maunya nulis hal-hal yang positif. Kangen masa-masa bisa ngetawain kebodohan-kebodohan kecil maupun besar. Kenapa sekarang nggak bisa? Malah menyesali, ngutuk, dan takut sama kesahalan. Kalau impact-nya bikin saya jadi lebih baik, masih ok. Tapi ini, saya jadi sering ketakutan nggak beralasan.

Sering saya merenung. Ini ada apa? Mananya yang harus diperbaiki? Kenapa jadi serba salah? Memang pekerjaan saya yang terlalu banyak, atau saya yang tidak bisa mengatur? Memang pekerjaan saya yang salah, atau saya yang tidak mudah mengerti? Memang saya yang tidak bisa bekerja dengan baik, atau.. bukan passion? Kenapa saya yang dulu suka melihat angka, sekarang jadi seperti melihat hantu? Kenapa saya yang dulu suka berdiskusi, sekarang jadi takut bertanya? Kenapa saya yang dulu mudah berempati, sekarang jadi lebih egois?

Mau saya yang dulu. Yang pergi cuma modal peta, bensin, dan uang seadanya, tanpa harus mikir capek-capek, yang penting orang di sekitar saya bahagia. Kenapa sekarang jadi sebaliknya? Kenapa hidup jadi se-ribet hidupnya orang-orang dewasa?

Mau liburan. Mau liat air. Mau liat pantai. Yang lama.

---

"Kak Sarip ada di NF?"

Semenjak kejadian kurang mengenakkan di salah satu NF, saya selalu telfon Kak Sarip dulu. Kalau nggak ada Kak Sarip, saya nggak jadi main. Takut. Begitu Kak Sarip bilang ada, langsung saya cus dari kantor imigrasi ke NF. Cuma 2 menit naik mobil. Lebih lama buka pintu, nutup pintu, sama ngegas kayanya, daripada perjalanannya.

Sekarang di NF banyak orang-orang baru. Saya nggak kenal. Tapi, sisanya masih sama: papan berisikan daftar perguruan tinggi dengan peringkat-peringkatnya, hasil try out dan prediksi di mana mereka akan diterima, warna biru, meja konsultasi, dan musholla.

Ada di musholla itu rasanya aneh. Kayak ngeliat saya yang dulu, lagi belajar buka buku materi dan latihan di musholla. Saya tanya sejarah (karena saya paling nggak ngerti pelajaran ini), yang lain tanya matematika. Tanpa tahu, kemana Tuhan mengantarkan kami, atas usaha kami. Usaha yang mungkin beberapa dari kami tidak tahu, kenapa kami mau melakukannya, termasuk saya. Cita-cita saya terlalu sederhana, hanya ingin jadi abdinya negara. Gaji tidak terlalu besar, insyaallah ndak masalah. Yang penting bisa memberi manfaat ke orang-orang di sekitar saya. Tapi sekarang kenapa yang dikasih tanggung jawab yang lebih besar? Di satu sisi bersyukur, di satu sisi sering mau nangis, lelah

Sudah 7 tahun yang lalu. Sudah pada selesai kuliah, Alhamdulillah. Sudah ada yang punya anak.

Kembali ke sini, mengingatkan saya, saya tidak lagi muda. Tapi sayangnya, sekarang saya jadi nggak tau apa yang mau saya capai.

Ada apa ini?

----

Mau nikah aja, jadi istri yang baek dan diberi pekerjaan yang ketika saya mengerjakannya saya bisa bilang "ini passion saya", boleh? Terserah mau di kantor ini atau di tempat lain. Saya insyaallah ikhlas. Bukankah memang itu yang saya cari ketika saya memutuskan untuk resign di kantor lama? Yang penting saya bisa bahagia, dan membahagiakan orang lain. Ini pertanyaan dari lubuk hati saya yang paling dalam untuk semesta. Semoga semesta mengizinkan. Jangan buat hidup saya se datar dan se-tidak meriah kembang api di awal tahun baru ini ya, semesta? Biar lebih seru. Aamiin.

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei