Mba, Tiramishu, satu
"Ada lagi?"
Coffee Late satu
Kalau weekdays, Bintaro X Change nggak terlalu ramai. Malah bisa dikatakan sepi. Tapi, J Co nggak begitu. Ada saja yang datang ke sini.
"De, sampahnya dibuang, ya"
"Tapi mom.."
"No problem darling, you should do that"
Lalu Ibu dan anak yang duduk sebentar di samping saya berlalu.
Ada juga sekumpulan mahasiswa yang sedang brainstorm,
"Gua ngomong gini, lo ngomong gitu deh.."
"Apa pake tahu bulat yang lagi nge hits"
"Hahaha, boleh tuh, kocak kocak..."
Lalu mereka tertawa. Suara tertawa mereka beradu dengan suara tertawa dua orang bapak yang sedang duduk di samping kanan depan meja saya.
"Hahaha, serius lu?"
"Iya, tapi gue kan emang lagi fokus di Singapur aja.."
Ya....
Saya sendiri sedang menenangkan pikiran sejenak. Sambil buka-buka instagram, sambil mikir-mikir plus minus kerja di Paragon. Capek. Tapi senang. Tapi tertekan. Tapi tertantang. Tapi mau liburan. Tapi kerjaan belum ada yang beres. Tapi...
Di instagramnya kukuh, saya lihat dia lagi senang-senangnya berdua an dengan sang istri. Kukuh. He he he. Ntah dia masih punya ambisi punya PO Harisman atau nggak. "Kuh, nanti kalau lu jadi bos, tetep kek gini ya, tetep low profile"
"Aamiin ghe.."
Hati tuh emang nggak bisa bohong ya. Kalau kamu bahagia ngeliat temen bahagia, pasti nggak sengaja kamu doain mereka, mungkin dari dulu, mungkin sampai sekarang. Dan begitu kamu doain mereka lagi, karena emang hati nggak bisa bohong, begitu ngedoain, hati tuh jadi makin senang. Tapi begitu sama orang yang datang tiba-tiba ngajakin ini itu, mau ngedoain tuh kek ngeganjel gimana gitu.
Si sekawanan mahasiswa lalu hening, liatin hp masing-masing. Begitupun dua bapak di depan saya. Di samping saya, datang pasangan ibu dan anak yang lain dengan bahasa fungsional inggris.
Kadang, orang tuh ketika mau bikin aturan, alasannya mungkin benar, tapi lalu didiskusikan dengan orang yang kurang tepat, lalu abu-abu, dan keputusannya jadi terkesan melucu. Jangan-jangan, larangan belajar bahasa inggris itu tercetus dari kegusaran salah seorang ketika dia mendengar sekarang banyak anak-anak kecil berbahasa Inggris. Lalu dia diskusikan dengan orang yang memang kelompoknya adalah orang-orang borjuis yang mana pergi ke Singapur bisa seminggu dua kali, seperti pergi ke mal. Lalu dia jawab, "Iya, setuju gue, bahasa indonesia jadi ditinggalin gitu aja, harusnya bahasa indonesia ditanamin dari kecil"
"Gimana nih bro biar mereka tuh lebih kenal sama bahasa Indonesia dibanding bahasa asing"
"Menurut gue, kesalahannya itu karena sekolah mereka pakai bahasa asing. Seharusnya bahasa pengantarnya pakai bahasa indonesia"
"Setuju, seharusnya bahasa Inggris tuh dipelajarin seadanya aja, tapi bahasa fungsionalnya tetap pakai bahasa Indonesia"
"Eh, tapi malah menurut gue, seharusnya bahasa Inggris tuh diilangin dulu, bro. Biar mem-brainwash anak-anak ini untuk pakai bahasa Indonesia"
"Nggak bro.. bahasa Inggris tetep perlu.. tapi nggak boleh dijadiin bahasa fungsional"
Sayangnya, si temennya yang diajak diskusi ini lebih punya kuasa. Jadi deh keputusannya seperti sekarang. Mungkin. Ini hanya cerita "jangan-jangan". Khayalan sepintas ketika mendengar obrolan sana sini.
Hah.. dinikmati dulu. Dikerjakan dulu apa yang bisa dikerjakan sekarang. Apa yang saya lakukan memang jauh dari kata maksimal. Cupu banget. Saya malas bekerja hanya karena omongan satu orang. Dulu juga begitu, resign hanya karena tiga dari sekian puluh orang. Sekarang nggak boleh gitu. Yang lain orangnya baik. Yang lain orangnya punya harapan. Yang lain orangnya mau mendengarkan. Yang lain orangnya nggak fokus ke kesalahan, tapi bagaimana soal perbaikan.
Di sini sudah bukan tempatnya lagi mencari ilmu. Justru memberikan ilmu. Di mana lagi?
Di sini sudah bukan tempatnya lagi minta dimentorin. Justru memberikan mentoring. Di mana lagi?
Di sini sudah bukan tempatnya lagi hanya memodifikasi apa yang sudah ada. Justru menciptakan apa yang belum ada. Di mana lagi?
Dicoba lagi. Semoga Paragon bisa senang menerima saya. Semoga saya pun begitu. Mencari kerja memang seperti mencari jodoh ya? Cocok-cocokkan. Tapi memang begitu. Saya kan memang ndak mau bekerja yang hanya bekerja tok. Jadi budak. Jadi hamba kalau kata pak ustaz bilang. Nggak mau. Saya cuma mau jadi hambanya Tuhan YME. Nggak mau jadi hambanya manusia, apalagi pekerjaan.
Yah, semoga berjodoh.
Bismillah.. Lanjut kerja lagi deh. Kasian Mas Randinya nungguin. Sampai akhirnya di JCo hanya tinggal kita berdua pelanggan yang tersisa. Semua toko di Bintaro X Change sedang ditutup-tutup. Besok masih hari Jumat. Semangat!
Minggu, November 06, 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 any question or statement?:
Posting Komentar