Nggak ada yang menyangka bahwa Tuhan menggiring saya ke sini, ke perusahaan asli Indonesia rumahan yang memang punya ambisi menjadi besar namun nggak menyangka bahwa growth-nya akan secepat ini. Perusahaan yang berawal dari kegundahan perempuan cerdas yang mempertanyakan kehalalan produk-produk perempuan yang ia dan perempuan Indonesia lainnya pakai. Perempuan ini biasanya kami panggil dengan sebutan "Ibu", dan suaminya kita panggil "Bapak".
Si Ibu cerdas ini akhirnya meracik formula dan membuat prouk kosmetik halal di rumah pribadinya bersama suami di bilangan Ulujami. Dari toko ke toko. Dari orang ke orang. Makin lama pesanannya makin banyak, apalagi menjelang Ramadhan. Karyawannya bahu membahu menyiapkan pesanan. Di rumah pribadi di bilangan Ulujami itulah produk kami di racik, dikemas, lalu diangkut dengan tangan menuju mobil box, lalu dikirim ke toko-toko.
Seiring perkembangan, rumah pribadi itu tidak cukup untuk menampung pesanan. Dibelilah satu rumah lagi di daerah Ulujami khusus untuk mengemas. Dari rumah pertama, produk kami diangkut menuju ke rumah ke dua untuk dikemas, lalu diangkut ke toko-toko. Makin lama lagi, rumah kedua pun nggak cukup. Begitu seterusnya sampai sekarang perusahaan ini memiliki empat pabrik besar di daerah Tangerang.
"Mohon maaf ya Pak Ustaz, saya kurang setuju dengan pernyataan Bapak tahun lalu bahwa yang terpenting adalah keimanan. Buat saya, perusahaan ini tidak hanya membutuhkan orang yang beriman, tapi juga harus jujur. Iman dan jujur tidak boleh ada yang hilang" begitu kata si Ibu, walaupun setelah si Ibu pulang, Pak Ustaz tetap kekeuh bahwa yang paling penting adalah iman, karena orang koruptor pun kalau beriman dia akan kembali ke surga. Hah. Si Pak Ustaz.
Saya sendiri lebih setuju dengan si Ibu. Kalau bukan karena orang-orang hebat ini, dengan kondisi yang apa-apa masih serba manual, perusahaan ini tidak mungkin berkembang secepat sekarang. Dan actually, di sini nggak sedikit orang non-muslim yang membawa energi positif ke perusahaan. "Di sini, gua bisa mengaktualisasikan diri gua" kata si kokoh. Yes, he looks very happy here.
Konsekuensi dari perusahaan yang belum siap besar tapi harus mengikuti perkembangan pasar salah satunya adalah kantor yang menclak menclok. Setidaknya, ada tiga kantor yang terletak di Kampung Baru namun letaknya tidak bersampingan, satu gudang di Kampung Baru, dan satu kantor di pinggir jalan (kami menyebutnya kantor yang ada di kota karena bukan di kampung). Kantor yang pertama terletak bersama dengan rumah direksi kami. Kantor yang ke dua sudah terlihat seperti kantor, letaknya di jalan raya. Kantor ketiga yang letaknya di "Kota" apalagi, lebih terlihat seperti kantor sungguhan. Sementara, kantor keempat yang baru saja di "launching", bentuknya masih rumah sekali.
Si Bapak dan si Ibu, Direktur Utama kami, walaupun usianya sudah di atas 60 tahun, energinya bikin iri. Kalau dari kantor depan mau ke kantor belakang, beliau masih suka naik sepeda. Suka tiba-tiba masuk ruangan dan memberi petuah. Suka bikin kita-kita nggak enak kalau sudah ada di depan pintu, beliau yang menahan pintunya tetap terbuka.
Kemarin, ada meeting di kantor belakang. Dari kantor depan, saya naik sepeda ke sana. Sambil lihat-lihat orang di Kampung Baru ini. Sambil lihat-lihat anak-anak kecil yang banyaknya kebangetan di Kampung Baru ini. Sambil tidak menyangka bahwa Tuhan menggiring saya ke sini. Walaupun banyak sekali pekerjaan rumah yang seringkali terbawa sampai mimpi, namun jujur, saya senang.
---
"Kak, kerjaan si itu kalau di kantor yang lain udah setara manajer tau kak"
"Saking orang-orang hebat di sini baik-baik banget, mereka sendiri sungkan mau nyebut diri mereka manajer. Yang mereka tau, kerjaan mereka harus bagus"
Down to earth ternyata tidak hanya ada di iklan televisi, di sini lebih nyata.
---
Ciledug, Minggu, 19 Juni 2016, pukul 01.32 a.m.
Musimnya flu. Jaga kesehatan ya, kalian.
---
Ciledug, Minggu, 19 Juni 2016, pukul 01.32 a.m.
Musimnya flu. Jaga kesehatan ya, kalian.

0 any question or statement?:
Posting Komentar