Habis baca blognya mbak Tyas, jadi inget kalau saya mau nulis, soal Jakarta.
Keinginan saya untuk nggak mau kerja di Jakarta mungkin bagi beberapa orang terdengar sangat mengada-ngada. Yang dibilang takut berkompetisi lah, daya juangnya rendah lah. Hah..
Seringkali saya bilang ke Mas Randi "kalau kantor lama saya pindah ke Bintaro, mungkin saya nggak resign", atau, "kapan ya, pejalan kaki di trotoar lebih ramai dari kendaraan di jalan raya?"
Itu karena saya sudah jengah. Sama kayak Tyas, butuh waktu 2 jam untuk sampai ke kantor. Dikali pp, 4 jam. Untuk 22 hari kerja, 88 jam. Dikali satu tahun, 1056 jam. Dan saya sudah melewati masa-masa ini dari SMP, which means sudah hampir 13 tahun. Oke, baiklah dikorting jadi 10 tahun, jadi saya sudah membuang 10560 jam hidup saya di jalan. Kalau waktu normal adalah 24 jam, ada 440 hari saya yang terbuang, satu tahun lebiiih.
Belum lagi transportnya. Biaya transport yang paling murah, ya, naik motor. Cuma, saya menyeraah naik motor ke ibu kota. Tremor. Kalau naik angkot atau naik kereta, hampir 50 rb sehari. Apalagi naik mobil. Bahkan, ketika saya mau melamar pekerjaan di daerah Sunter, ongkosnya sampai 70 rb naik angkot, atau 110 rb naik mobil lewat tol.
Belum lagi biaya hedon dan pelampiasan stres lainnya.
Hah.
Makanya, bersyukur banget dapet pekerjaan yang dekat dengan rumah. Ternyata Ulujami juga dekat. Jaraknya 15 km saja, sama kayak jarak dari rumah saya ke rumah Mas Randi. Kalau lewat jalan tembus, malah hanya 12 km. 40 menit naik motor. Naik mobil juga 40 menit, kalau lewat tol. Biaya perjalanan pun bisa ditekan 70%.
---
Di awal bekerja, saya pergi ke Ulujami lewat daerah Joglo. Kala itu, cepat, hanya 30 menit. Cuma, jalanannya sedang diperbaiki sekarang. Kena macet? Banget. Akhir-akhir minggu ini saya jadi lebih sering lewat Jalan Raya Ciledug. Ga tau deh, lebih ga macet aja. Saya juga bingung kok, Ciledug akhirnya bisa nggak macet.
Jalanan Joglo itu kecil. Setelah melewati depan "kompleks" Taman Alfa Indah, barulah jalanannya bisa selebar 5 mobil. Jalanan lebar itu menurun. Yo i, Jakarta memang ternyata berbentuk seperti mangkuk, datarannya rendah. Sebelum turun, dari dataran yang lebih tinggi ini kamu akan disajikan lautan besi-besi sparepart yang sudah berbentuk motor dan mobil. Itu, isinya kepala orang semua? Untung setelah lampu merah pertama saya langsung belok kanan, masuk gang, menuju kantor saya. Yo i, kantor saya sekarang di gang gitu, bukan di kompleks perkantoran macem kuningan. Untuk yang dari luar daerah, disediakan mess. Rata-rata messnya hanya Rp 400.000 saja.
---
Biasanya, yang naik mobil menyalahkan motor sebagai penyebab macet, karena ketika mau berbelok, mobil harus ngalah dengan motor. Si motor pun nggak mau dianggap salah, katanya space mobil terlalu besar, cukup untuk dua motor.
Setelah kamu melihat lautan sparepart di Joglo, kamu akan sadar kalau penyebab macet itu complicated. Utamanya, karena pencari kerja berpusat di Jakarta. Penduduk di Jakarta sudah ada 10 juta jiwa, ketambahan orang-orang dari Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bekasi. Belum lagi yang dari luar Jabodetabek bahkan luar jawa. Walau luasnya katanya adalah 3 kali Singapura, tata kotanya ndak sama seperti negara Singa itu. Singapura, tata kotanya dulu hadir, baru negaranya berdiri. Kita terbalik. Kalau perumahannya padat, lampu merah di mana-mana, yaa, yo wis. Transportasi berbasis masal, cepat, dan bisa transit di banyak tempat memang jalan keluar yang paling mungkin memecahkan masalah.
Kalau kapasitas MRT adalah 1500 orang, dan kalau seandainya ada 6 juta orang yang bekerja di jakarta, berarti dalam sehari butuh sekitar 4000 perjalanan kereta. Kalau waktu operasionalnya 20 jam, berarti 1 jam diharapkan ada 200 perjalanan. Kalau dia datang setiap 10 menit sekali, berarti dalam satu menit, harus ada 20 perjalanan, alias ada 20 rangkaian kereta yang sedang transit di 20 stasiun.
Bisa? Insyaallah bisaaa. Yang penting politiknya di minimalisasi.
Eh wait, itu belum dihitung jumlah anak sekolah dan mahasiswa ya? Ditambah lagi, orang-orang seperti saya yang dari Ciledug dan tujuannya ke Depok, haruskah melewati Jakarta? *aduh pusing*
---
Harus bekerja baik, biar bisa diangkat jadi pegawai tetap (Masih kontrak nih, cyin).

0 any question or statement?:
Posting Komentar