Hi! Apa kabar?
Sebentar lagi usia saya 34 tahun. Itu adalah umur ketika Mas Bagus, bos saya, masuk ke kantor saya saat ini. Yah, tambah 1 tahun lagi sih.
Saya sedang dalam perjalanan pulang dari Surabaya. Saya sempat bekerja satu hari di kantor cabang yang ada di sana. Ada dua orang kawan lama yang saya jumpai. Mereka memang bekerja di kantor cabang yang ada di Surabaya. Saya kenal mereka sejak 10 tahun yang lalu. "Mas Galih, gara-gara melihat Mas Galih, saya baru sadar kalau saya menua", ujar saya. Beberapa uban sudah keluar dari rambut Mas Galih. Di saat muda, ia bersemangat jika harus dipindahkan ke luar kota. Saat ini, sudah ada anak dan istri. Butuh berfikir ratusan kali jika harus pindah kota. Begitupun mba anna. Anaknya sudah cukup besar untuk pindah sekolah.
Adegan dewasa itu nyata adanya.
Tujuan saya ke Surabaya adalah menghadiri pernikahan adek sepupu saya. Jarak usia kami sekitar 5 tahun. Walau terlihat cukup dekat selisih umurnya, saya melihat tumbuh kembangnya dari mulai bayi sampai sekarang jadi gadis anggun berumur 29 tahun. Kemampuan kognitifnya lamban. Orang tuanya cukup hopeless dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya. Begitu dapat kabar dia dilamar orang, om dan tante saya langsung menginvestigasi bibit bebet bobotnya. Dia bukan orang kaya. Tapi terlihat cukup bisa bertanggung jawab. Semua keluarga ikut berbahagia. Siapa yang sangka. Jodoh tidak ke mana, kata pepatah.
Di sana, tentu saya bertemu sepupu yang cukup lama tidak saya jumpai. Mungkin.. setahun lebih. Berbeda dengan ega, cerita sepupu saya yang lain ini agak lain lagi. Mereka tiga bersaudara. Cantik semua. Pintar semua. Tapi.. cerai semua. Mungkin ada yang tertarik?
Jika mereka semua ini pohon, ada yang seperti kenikir kuning, sering diabaikan orang, tapi dia bodo amat dan tetap bertumbuh menghiasi jalanan yang sering menodai mereka. Ada yang seperti anggrek, cantik mahal, tapi hanya orang-orang tertentu yang paham cara merawatnya. Ada yang perlu dipisah potnya agar hama di tumbuhan satu tidak menyebar ke tumbuhan yang lain. Kalau saya? entah lah saya ini tumbuhan apa. Mungkin saya ingin menjadi tanaman bungur: bunganya cantik, kayunya kuat, dan daunnya bisa jadi obat. Aamiin.
Di usia ini, ada harapan yang rasanya dulu terasa mustahil, tapi ternyata bisa diusahakan. Tidak semua orang bisa mendapatkan privilege ini. Sesuatu yang kadang saya rasa tidak adil karena seharusnya banyak orang yang lebih berhak, tapi kalau saya tidak ambil, saya tidak tahu apa yang sebenarnya bisa saya unlock dari diri saya. Sesuatu ini sebenarnya juga hak saya yang seharusnya saya dapatkan sejak 1 - 2 tahun yang lalu, tapi saya jalankan saja tanpa status. Berharap dinilai sebagai amal ibadah. Tapi setelah diresmikan, ada perasaan takut tidak sesuai ekspektasi atau takut menyakiti hati.
Adegan dewasa itu nyata adanya. Dan di usia 34 tahun ini, saya merasa dunia ada di genggaman. Tidak terlalu tua untuk berambisi, tapi tidak terlalu muda untuk punya wisdom dibanding teman-teman yang lain.
Kami pulang dengan Sembrani, mencoba Luxury Class. Katanya ekonomi sedang sulit. Tapi tadi kami tidak dapat tempat duduk di ruang tunggu. Tapi luxury tidak se luxury itu. Biasa saja. Tidak semua orang memakai fitur layar yang tersedia. Mungkin karena jaraknya terlalu jauh dari kursi, tidak ada remote, susah buat pencet pencet. Tempat duduknya juga tidak terlalu 180 derajat. Mungkin hanya 170. Internet juga tidak terlalu cepat.
Pemandangan dari kereta jawa dari saya kecil sampai sekarang tidaklah berubah: sawah, perumahan warga, pabik, dan laut. Para petani sudah mulai menanam padi kembali. Mungkin uang yang saya keluarkan untuk membeli tiket Luxury Class ini sama seperti kerja keras mereka satu bulan. Hah. Lagi lagi saya merasa tidak adil. Seperti ada beban karena diamanahkan rezeki yang lebih banyak dari orang lain. Sampai saya takut, apakah berlebihan jika saya diberikan kerendahan hati atas segala nikmat dan rezeki yang saya terima. Ternyata saya bisa punya rasa sombong dan punya rasa ingin tahu kenikmatan duniawi. Yang satu sudah dapat, ingin coba lagi yang lain. Begitu seterusnya. Hah.. setan memang entrepreneur sejati. Apapun jadi peluang buat mereka. Kemalangan manusia jadi kesempatan. Kebahagiaan pun ternyata juga.
Mas Bagus, bos saya yang dulu masuk ke kantor saya saat ini di usia 35 tahun, saat ini sudah mau masuk usia 41 tahun. Sama seperti saya melihat tumbuhnya sepupu saya dari bayi, bahkan Mas Bagus pun bertumbuh, dari mas-mas SCBD batas kanan yang kerjanya bisa 20/24, menjadi bapak-bapak anak dua yang setiap malam nelfon mereka buat mastiin PR nya selesai dikerjakan yang cuma kuat kerja 12/24. Yang dulu hampir selalu call setiap weekend buat urusan kerjaan, sekarang kalau bisa ga perlu lah. Yang dulu hampir selalu ngomelin saya karena saya ga ngerti bikin ppt dan analisa yang bagus, sekarang jadi lebih sering se-frekuensi dalam hal approach suatu issue.
Ya, bahkan mas bagus pun bertumbuh. Adegan menua itu.. nyata.
Sekian kontemplasi sore ini. Tadinya mau berpuisi. Tapi bahkan menulis pun sudah lama sekali ya. Semoga kita bisa bertumbuh dan menua dengan cara yang baik. Aamiin.
--
Sudah sampai stasiun cikampek. Ditulis sambil menunggu tarikan FAGLL di SAP. Manusia, dari hari Sabtu narik dengan cara yang sama. Sudah tahu gagal, diulang terus. Ternyata narik satu-satu sambil menulis gini, malah bisa selesai dalam waktu 1.5 jam. Manusia.. manusia.. tolong ditambah stok sabarnya, ya.

0 any question or statement?:
Posting Komentar