Saya ga pernah bercanda dalam banyak hal. Mungkin cara penyampaiannya saja yang kadang agak "nyeleneh". Tapi maksudnya betul. Apalagi masalah sekolah. Saya serius sekali. Karena dipikir dari ujung ke ujung, menyelesaikan problematika sosial yang ada sekarang tali pemutusnya cuma satu: pendidikan. Dan pendidikan baru berhasil kalau orang sudah menyadari bahwa dia bukan alat untuk menjadi kaya atau orang elit, tapi untuk membuat bumi lebih baik, dari mulai manusianya, alamnya, sampai keberlangsungannya.
Jadi, ketika masuk KB pun saya betul-betul serius. Karena di semua literasi, semua bukti empiris menunjukkan bahwa di usia 3 - 6 tahun, logika mereka mulai berkembang dengan cepat. Semua yang mereka lihat, dengar, dan rasakan, akan mudah terserap. Di usia ini, kalau kita mau cekokin suatu ideologi tertentu, akan lebih cepat terserap.
Kebayang kan kalau anak kita ketemu role model yang nggak sesuai dengan idealisme kita?
Cuma ya emang banyak batasnya. Sudah saya pikirkan matang-matang, bersekolah di sekolah yang masih konvensional memang risikonya tinggi. Risiko si anak kurang distimulus, risiko "tertular" ideologi yang cenderung kolot (misal, anak laki-laki ga boleh nangis, atau anak laki-laki ga boleh gondrong).. Jadi setiap mengantar sekolah, saya selalu berdoa, agar Safa diberikan ilmu yang berkah, didekatkan dengan teman-teman yang baik, soleh, dan solehah, serta agar Allah lembutkan hati guru-guru Safa.Agak ketar-ketir ya lihat guru KB wajahnya merenguut aja. Semoga Allah lembutkan hatinya dan Allah mudahkan senyumnya.
Selebihnya, mau nggak mau saya yang harus berusaha untuk jadi role model. Karena mereka masih belum bisa mendengarkan perintah, tapi mereka bisa menyerap apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan.
---
Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, Safa bilang. "Kemarin, safa ditolong temen safa kayak gini.." Oh, ternyata ini yang bikin safa mau ke sekolah setelah hari itu. Terima kasih ya Allah. Dekatkanlah Safa selalu dengan teman-teman yang baik. Aamiin.

0 any question or statement?:
Posting Komentar