Selepas ayah meninggal, tidak banyak yang ingin saya tahu. Misalnya, kenapa kok ayah jadi orang yang sangat emosional? penakut? dsb. Kala itu, saya merasa, ya.. karena tabiatnya seperti itu. Karena semua orang menganggap seperti itu.
Then, i realize.. itu semua hanya persepsi yang dibentuk otak orang lain. Bukan berarti itu aslinya.
--
Lagi googling banyak hal, tiba-tiba saya ingat hari-hari ketika SMP. Kalau malam dan ga ada PR, ayah akan meminta saya menyempurnakan apps dan website buatannya.
Dulu, belum ada google translate. Ayah membuat aplikasi semacam google translate, namanya.. mm.. apa ya? Translate Indonesia - Inggris dan Translate Inggris - Indonesia. Ada dua jenis pencarian, yakni pencarian arti kata dan arti kalimat (bahkan parargraf). Aplikasi itu dibuat dari tahun 1998. Kalau dulu saya SMP tahun 2012, berarti sekitar 14 tahun selalu ayah sempurnakan kodingnya dan selalu ayah tambahkan kosa katanya.
Kemana aplikasi itu sekarang?
Hilang.
Dan tentang website, ayah punya mimpi untuk bikin one stop website. Jadi kita bisa ngelink berita terupdate dari sana, juga mencari semua jawaban di sana. Bukan semacam google ya.. tapi semacam wikipedia digabung sama portal berita.
Kemana website itu ?
Hilang.
Sebenarnya ayah mengarsip rapi kodingan dan juga passwordnya. Tapi arsipnya hilang.
Dan dulu, saya nggak mau tahu. Sudah terlanjur "benci". Padahal saya ingat betul, tujuan ayah membuat itu. Ayah tahu di tahun saya melihat dunia, informasi akan sangat banyak dan cepat. Agar saya mudah mencerna berita dari mancanegara, dan agar saya bisa membaca buku bahasa asing, maka ayah buatkan dua hal itu.
Saya baru merasakan manfaatnya di tahun pertama kuliah. Benar-benar bermanfaat.
Suatu hari, laptop saya nge-hang, dan saya perbaiki ke tukang servis dekat kampus dengan catatan: tolong diback up. Pertama kali rusak, si masnya memback up rapi. Lalu rusak lagi. Mungkin karena virus. Hari itu sekitar hari Selasa laptop saya dititip. Hari kamis ayah nggak ada. Jumat saya ke kampus mengambil laptop. Malamnya, saya buka, dan file ayah ikut menghilang.
Biasanya saya hanya akan menghampiri ruangan ayah yang dipenuhi asap rokok untuk bertanya dan minta instal. Tapi kali itu ga bisa. Saya pun mencoba menginstall dari hardisk, ga bisa. Saya cari back up CD nya. Ga ketemu. Saya tanya ke teman, bahasa program yang dipakai ayah terlalu sulit untuk diback up.
---
Mungkin saya satu-satunya orang yang akhirnya menghargai kerja kerasnya. Tapi sayangnya setelah ayah nggak ada. Karyanya yang dibuat belasan tahun hilang gitu aja. Anak kurang ajar ya.
---
Baru setelah punya anak, saya mulai menggali kembali, kenapa saya seperti ini, kenapa ayah seperti itu.
Saya benar-benar tidak stabil setelah menikah, terutama setelah punya anak. Sudah kesekian kalinya Safa saya bentak. Sialnya, saya menyadari betul, alasan saya membentak Safa bukan karena Safa salah, tapi karena saya meledak. Rasanya semua beban ditumpu kepada saya.
Lalu saya sadar, oh ini ya, yang terjadi pada ayah? Ga ada satupun orang yang menghargai karyanya, ga ada satupun orang yang percaya omongannya, ga ada yang mengerti pemikiran jangka panjangnya.. Dan yang lebih parah, mereka anggap ayah gila. Ya, saya ada di kondisi itu, beberapa bulan lalu. Rasanya mau gila. Safa saya bentak. Lalu saya merasa bersalah, dan menyakiti diri sendiri. Orang di rumah malah menyalahi saya. Katanya saya yang kurang bersyukur, kurang sabar, dsb. Rasanya makin mau pecah ketika saya sedang teriak-teriak lalu orang di rumah malah mikirin "nanti didenger orang lain". Oh my god, kenapa ga ada yang dengerin saya? Kenapa malah dengerin pendapat orang lain?
Konsul ke psikolog, malah dia sok tahu tentang konsep pernikahan jarak jauh.
Lalu masuk ke fase menyalahkan pernikahan yang sejak awal sudah saya takuti. Dari awal, saya benar-benar tidak bisa masuk ke keluarga suami. Dan ketakutan saya benar-benar terjadi, bahkan di hari pertama pernikahan. Yang ini ga usah diceritakan. Benar-benar absurd dan kalau diingat banyak yang membuat nangis berhari-hari.
Lalu menyalahkan diri sendiri kenapa harus menganggap perkataan orang yang lebih tua adalah benar. Tentang semua hal. Termasuk bagaimana merawat anak. Padahal.. saya baru tersadar.. dulu waktu kecil saya dipegang orang lain. Ga ada yang ngerti gimana caranya merawat seorang makhluk hidup baru di rumah ini. Tapi tetap saya yang salah.
Ada baiknya juga kemarin saya mengambil jeda. Keluar dari pekerjaan kemarin benar-benar membuat otak saya lebih jernih dalam memilah masalah. Walaupun butuh beberapa bulan untuk berdamai dengan diri. Berdamai dengan innerchild bahasa baiknya. Sampai sekarang pun saya masih belajar menata hati. Terutama belajar menurunkan emosi. Ini hari ke-4 saya berhasil untuk benar-benar tidak berteriak. Semoga bisa berlanjut seterusnya.
Proses ini juga termasuk proses memaafkan ibu. Mungkin ada yang belum selesai dengan innerchildnya sampai ia selalu pesimis dengan ide baru, plin plan dalam mengambil keputusan, gengsi mengakui kesalahan, dan tidak pernah menghargai. Tapi saya paham benar, dia sudah berusaha menjadi ibu yang baik.
Saya pun baru sadar, kenapa kok saya benar-benar sesuka itu menyasarkan diri. Keluar rumah, bertemu orang dan jalanan baru.. Karena ga ada yang benar dan salah ketika kita tahu opsi jalan ke kanan dan kiri adalah hal yang sama-sama kita nikmati.. Karena jika jalanan itu benar, kita tidak perlu diberi piala.. dan ketika jalanan itu salah, kita tidak perlu dipenjara.. Karena di sana kita tidak butuh pengakuan.. Karena saya bisa merasakan, bahwa bumi berputar, waktu berjalan, dan everything is fine.
Saya baru sadar, kebrutalan ini sudah saya rasakan sejak kecil. Tapi Ghea kecil belum mengerti bagaimana menata hati. Ghea kecil hanya ingin membuang kenangan pahit dan menemukan kenangan indah semudah ambil sepeda lalu keluar rumah mencari jalan kecil di perkampungan nan jauh dari rumah. Ghea kecil rela diomelin karena panas-panasan dan muka hitam daripada otak panas dirumah. Ghea kecil belum tahu, bahwa hati punya labirin yang bisa dibuka-tutup. Ghea kecil belum tahu, itu tujuannya puasa, dan kenapa kita diminta menahan hawa nafsu, karena nafsu itu yang bisa membuka-tutup labirin itu.
Sebuah perjalanan 7 bulan yang benar-benar membuka mata. Tanpa psikolog, tanpa advise dari orang lain..
"Jadilah pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui".
Al-A'raf : 199 - 200.
Saya anggap ini semua adalah perjalanan menyempurnakan iman dari tujuan pernikahan. Saya benar-benar merasakan, ga ada anak yang durhaka. Mereka ga minta kita lahirkan. Justru kita yang perlu mendidik mereka, setidaknya mengajarkan bahwa tujuan kita dilahirkan itu adalah untuk dikembalikan kepada-Nya. Justru kehadiran mereka adalah karunia. Kalau ga ada Safa, mungkin saya ga akan menemukan innerchild saya, ga akan belajar untuk berdamai dengannya, dan ga tahu betapa sulitnya menahan diri sendiri.
---
Saya baru tersadar juga, sekarang saya jadi lebih realistis dan kadar romantisnya berkurang drastis. Baru dengerin Location Unknown. Liriknya indah ya. Tapi kalau saya perhatikan, banyak kata-kata hiperbolanya. Wah, sepertinya dulu saya sering hiperbol. He he he.

0 any question or statement?:
Posting Komentar