Dulu, setiap kali saya tanya "nanti kalau Mas Ibnu meninggal gimana?" Jawabannya selalu "Rezeki sudah ada yang mengatur". Jawaban yang dulu ga bisa diterima otak saya yang masih bocah itu. Tapi sekarang, setelah 3 tahun menikah dan 2 tahun ngurus anak, sepertinya saya pelan-pelan mulai memahami dan bisa sedikit mengoreksi.
Katanya cinta tuh ga butuh uang, tapi kek mana mau beli popok, susu, pulsa internet pakai cinta? Belum lagi masih ada keluarga lain yang harus ditanggung. Belum lagi impian menyekolahkan anak disana sini. Atau dana darurat kalau tiba-tiba sakit berat. Rasa-rasanya kalai belum sampai ke stage financial freedom, susah yaa mau jadi full time ibu rumah tangga.
Sampai akhirnya saya "ga sengaja" untuk resign. Awalnya karena mau buka usaha sendiri. Tapi kok, lama-lama saya menikmati peran sebagai ibu.
Di mulai dari berpikir tentang mau lanjut kuliah lagi. Tapi pertanyaannya, buat apa? Apa mau jadi dosen? Atau kerja sama orang lagi? Atau fokusin tempat les? Nanti kalau sama melakukan itu semua, Safa siapa yang ngurusin? Yang ngajarin? Apa kalau saya bayar pengasuh, saya bisa tetap jaga amanah Allah untuk membesarkan Safa jadi anak sholehah? Apa kalau saya masukkan ke sekolah agama masalah selesai?
Pikiran tentang apa goals saya selanjutnya selalu mentok ke masalah Safa. Apa yang Safa butuhkan? Ngalor ngidul saya berpikir dan bertemu dengan jawaban kalau Safa butuh pendidikan dini yang sangat sangat baik. Ada yang bilang usia balita adalah usia emas. Saya pun mencoba mengingat apa yang saya capai di usia itu.
Di usia itu, saya selalu jadi anak bawang karena kalau lari pasti jatoh, megang apapun akan jatoh. Pendiam banget. Sulit untuk mengungkapkan apa yang ingin saya omongkan. Bahkan saya ga tahu harus mikir apa. Ini terjadi terutama kalau saya bertemu dengan situasi baru. Saya susah sekali makan, cenderung sangat memilih, dan lebih suka makan yang gampang-gampang.
Kelebihannya, saya pandai dalam menghafal, berhitung, membaca, dan bermusik. Bukan hanya bisa, tapi pandai. Saya suka sekali menata semua dengan rapi. Oh tentu ini semua masih saya ingat, karena pada dasarnya saya suka mengingat.
Apa yang terjadi saat saya bertumbuh? Ternyata kelebihan saya itu pelan-pelan tertindas sama kekurangan saya itu. Di beberapa poin seperti menghitung dan bermusik masih bisa dipertahankan. Tapi yang lain, zonk. Bahkan saya mudah skip sesuatu. Barang-barang ga tertata rapi.
Lalu saya runut masalahnya.. masalahnya karena ibu saya bekerja overload, sehingga kurang sabar dalam mendidik saya. Saya dibiarkan "terlalu" mandiri. Saya yang masih kecil ga paham mana yang baik dan buruk. Mana saya tahu kalau nanti sudah besar saya harus mencari makan sendiri, yang saya tahu sekarang ibu saya selalu menyediakan apa yang saya mau.
Sampai akhirnya saya SMA dan mata saya mulai terbuka. Lalu masuk ke kuliah, dan jadi sangat terbuka. Tapi ternyata mengubah kebiasaan tuh lebih susah. Kayak main saham, kalau udah rugi, susah banget naiknya. Kayak berat badan, nurunin setengah mati, naikin mah tinggal banyakin makanan padang.
Dan ini sangat menyusahkan saya pribadi ketika harus terjun ke masyarakat, bekerja, memulai hubungan, dan.. punya anak.
Tapi kalau dipikir-pikir, kalau ibu saya ga banting tulang, apa jadinya ya? Gimana caranya biar saya yakin ada jaminan finansial tanpa saya harus banting tulang berlebihan dan bisa mendidik anak?
Nah, ada untungnya juga kemarin saya sempat bekerja dan berhasil mengumpulkan beberapa aset. Dan yang utama, kebetulan (lagi) saya udah kerja rodi menjelang kelahiran Safa. Waktu itu, saya takut banget ga bisa liat Safa setelah melahirkan. Dengan kondisi keuangan keluarga Pak Suami yang ga stabil, saya takut banget kalau Safa ga bisa sekolah. Akhirnya saya kerja rodi buat bikin deposito yang insyaallah kalau di ARO bisa cukup sampe biaya kuliah.
Nah setelah itu? Kebetulan lagi masih bisa nambah aset dan beberapa dari aset tersebut saya utilisasikan di saham dan alhamdulillah sempat profit > 60%. Ini yang bikin saya berani untuk resign dan menjadi ibu rumah tangga.
Setelah saya merasa sudah cukup aman masalah finansial, saya pun bisa lebih fokus mikirin anak. Dan masha Allah, betapa saya dibukakan mata hati saya. Baru sadar, kenapa kok menikah itu sampe dibilang menyempurnakan setengan iman. Kenapa kok surga ditelapak kaki ibu.
Banyak yang bilang, surga ditelapak kaki ibu karena ibu yang melahirkan, ibu yang ngerawat, ibu yang ini, ibu yang itu.. walaupun semua itu benar, tapi saya pribadi merasa ibu bukanlah "subjek", tapi "objek". Bukanlah karena ibu yang melakukan apa untuk siapa, melainkan ibu itu apa dan siapa yang membuatnya.
Kamu tahu, apa kuncinya menjadi seorang ibu? Islam. Islam secara harafiah punya arti salah satunya adalah pasrah, pasrah dan tunduk dengan yang Maha Kuasa.
Gimana ga pasrah? Menyapih itu sama saja kayak merehabilitasi pecandu. Tapi kalau bukan karena kita pasrah ada Allah yang maha pembolak-balik hati, dari mana kita sadar untuk bersabar?
Tapi ini ga cuma soal pasrah, tapi juga tunduk sama ajarannya, mengamalkan semua perintahnya yang terlihat remeh tapi ternyata berat juga ketika dijalankan. Saking banyaknya pertanyaan tentang hidup yang saya butuhkan dan saya tahu pernah baca ini di Quran tapi lupa di sebelah mana, sampai saya mau masuk pesantren aja.
Ya, menjadi Ibu butuh Islam, dan Ibulah tempat anak belajar tentang Islam yang paling langsung. Gimana ga langsung? Siapa yang nyuapin? Siapa yang harus ngingetin anak untuk berdoa sebelum makan, untuk bersyukur atas rezeki yang diberikan dan berdoa mengharap keberkahan dari apa yang dimakan? Siapa yang ngajarin apa itu rezeki dan apa itu keberkahan? Apakah harus nunggu 5 tahun kemudian ketika si anak masuk sekolah? Masha Allah.
Dan kenapa harus ibu yang mengajarkan? Karena Allah berkahi kasih sayang yang luar biasa ke sekorang Ibu. Dengan kasih sayang itu, Islam bisa diajarkan dan dipancarkan oleh seorang Ibu. Apa wujud nyata kasih sayangnya?
Pada seorang ibu, ada rahim yang sangat kokoh. Gimana ga kokoh? Di situ ada janin manusia lho. Kalau ga kokoh, kenak polisi tidur dikit udah ambyar.
Lalu, Allah limpahkan juga rahmat di setiap air tetes air susu ibu. Kalau saya pikir-pikir, ga heran kenapa kemaluan dan payudara menjadi tempat nafsu terhebat, karena di situ banyak kasih sayangnya Allah, yang kalau berlebihan dinikmati jatuhnya jadi nafsu, yang kalau dilampiaskan bukan dengan muhrim jatuhnya jadi maksiat.
Pantas saja kalau dipeluk akan terasa nyaman. Terlepas dari segala fakta biologis, tapi di situ terlimpahkan rahmat yang bikin kita merasa nyaman dan tenang.
Ya, pantas saja ada surga di telapak kaki ibu.
Tapi mungkin saya ga bisa ke titik membahas ini kalau pikiran saya masih nyangkut soal finansial. Jadi, balik lagi ke kadar "kepuasan". Apakah puas nanti anaknya sekolah di negri dan merasa bisa mendampingi, apakah harus punya rumah mewah agar lebih nyaman.. ga ada yang salah.. hanya masalah preferensi. Yang penting dipikirkan baik-baik sampai kita ga harus berlebihan memikirkan harta dan bisa terus ingat hakikatnya penciptaan manusia, laki-laki dan perempuan, dan alam semesta.
Jadi kek ceramah yes. Padahal ini mah cuma self reminder.
Jadi kalau saya boleh koreksi percakapan dengan Mas Ibnu dulu, sayanya terlalu fokus dengan kebutuhan finansial tanpa tahu batas kepuasan saya, mas ibnu terlalu cepat puas tanpa ngomongin soal financial freedom. Ternyata, kalau dua hal ini bisa disambungin sebelum nikah, yang namanya sakinah ma waddah wa rahmah bisa lebih cepet kali yaa ke wujud. Hihi.
Tapi emang plannya Allah keren banget ya. Mungkin kalau dulu ga kenal Mas Ibnu, saya ga bisa nyambung-nyambungin apa yang terjadi, yang berlanjut ke ga tau apa yang harus saya lakukan dalam hidup. Pun kalau ga nikah sama Randi dengan segala cobaan badai yang menerjang, ga akan ada safa yang bisa bikin mata hati saya on lagi, Masha Allah..

0 any question or statement?:
Posting Komentar