Rabu, Maret 25, 2020

Membantu seperti Keluarga

Diposting oleh ghea utari di Rabu, Maret 25, 2020
"Kesel banget gue sama pemerintah"

Teman saya yang bekerja di kantor pemerintahan ini bergumam. Lha, dia kan pemerintah ya. Hehe.

Dia kesal karena pemerintah yang lambat dalam penanganan COVID-19. Masih mikirin, mentingin ekonomi atau masyarakat. Lalu saya pun bercerita, sebenarnya perusahaan saya juga ada di dilema itu, tapi hanya sebentar.

Media banyak yang meliput soal kedermawanan perusahaan tempat saya bekerja yang menyumbang sekian puluh M. Sebenarnya angka realnya lebih dari yang diberitakan. CEO kami memang bawaannya merendah. Namun, dibalik angka sekian puluh M yang akhirnya dijalankan itu, ada juga drama pendek yang membuat saya happy. 

Mungkin karena keluarga sudah hampir keluar dari management, jadi style-nya agak bergeser. Dulu, gara-gara aturan pemerintah yang nggak ngebolehin Beauty Advisor dikelola sama perusahaan manufaktur, itu mikirinnya sampai berbulan-bulan, gimana caranya "nggak mecat" orang tapi tetap comply. Pun ketika ada aturan distribusi nggak boleh dikelola. Dulu, kesejahteraan perusahaan, keberlanjutan usaha supplier dan vendor, beasiswa pendidikan dan csr rutin lainnya ke sekolah, universitas, pesantren, dsb, adalah prioritas utama. Managemen bekerja ya.. buat ngash manfaat ke kita dan mereka ini.

Ada masanya perusahaan melewati masa krisis seperti ini. Katakanlah kita sudah order bahan baku untuk kebutuhan 1 jt pcs, katakanlah. Tapi karena masa krisis, sebenarnya 500 rb pcs juga ga bisa kejual. Sebenarnya bisa-bisa saja kita cancel. Tapi, yang ada di otak management kala itu, 1 jt pcs itu adalah bisnis hampir seluruh supplier itu. Kita cancel separuh aja, berapa buruh yang kita korbanin, berapa keluarga yang dikorbanin. Jadi, nggak jadi dicancel. Bismillah aja dulu. Niat baik, insyaallah dimudahkan.

Nah, sekarang keluarga udah nggak terlalu ikut campur, tapi masih sangat memantau. Tanggung jawab dipindah ke profesional. Ya, saya membayangkan, mungkin kalau saya di posisi sang para profesional, saya pun deg-degan. Perusahaan harus untung, saya harus menjaga amanah.

Namun, prioritasnya jadi agak berubah. Perusahaan harus untung, biar bisa ngasih manfaat. Ini mirip, tapi beda lho rasanya, beneran.

Sinyal sinyal ini sudah tertangkap sebenarnya oleh keluarga. Jadi, berkali-kali keluarga selalu katakan, kita bermanfaat maka kita tumbuh.

Tapi tetap saja ya khan, deg-degan kalau jadi direksi mah. Pusing. Takut rugi duluan.

Lalu di suatu meeting keluarga, ntah apakah CEO kami duluan yang mengusulkan, intinya dari keluarga setuju untuk membantu sekian puluh M. Profit nomor dua, yang penting semua selamat.

Lalu terjadilah seperti pemberitaan di media. 

Alhamdulillahnya, saya banyak dengar kabar baik setelah itu. Mulai dari BPJS yang akhirnya menanggung biaya penyakit ini, konglomerat ikut menyumbang, artis-artis buka donasi, dan perusahaan-perusahaan besar lainnya pun ikut urunan.. alhamdulillaah..

Semoga berkah untuk kita semua, dan semoga wabah ini segera berlalu. Aamiin.

---

Kalau niatnya bekerja untuk membantu sesama, apalagi menganggap "sesama" itu adalah keluarga, bekerja jadi enteng. Ngga jadi resign dulu insyaallah.

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei