Sabtu, Juli 27, 2019

Hi, Phi! Selamat!

Diposting oleh ghea utari di Sabtu, Juli 27, 2019
"Menikah itu 20% enak, 80% nya enak banget"

Sudah pernah dengar bercandaan itu? Itu sering banget dikasih untuk teman-teman yang belum menikah.

Harus saya akui, jujur, 20% enak, 80% nya perjuangan.
Bahkan untuk yang sudah pernah pacaran, belasan tahun sekalipun.
Ada saja cobaannya.

---

Sebelum dengan mas Randi, beberapa pernah singgah ke rumah. Bahkan yang terakhir, sudah hampir "deal" taaruf. Tapi ga jadi karena berbeda prinsip. Intinya, beliau ingin saya berhenti bekerja, sementara saya takut. Pengalaman, dari saya kecil ayah sudah ga kerja, dari saya kelas 2 SD tepatnya. Nggak kebayang kalau mama nggak punya tempat les, apalah jadinya saya.

O iya, disclaimer, saya dan beliau ini masih baik-baik saja ya, beliau juga sudah menikah dan hidup bahagia.

Kembali ke saya. Akhirnya saya menikah dengan Mas Randi dan alhamdulillah diberi amanah merawat Safa. Semua baik-baik saja, sampai se umur-umur, kemarin saya kenak gejala typus (Udah mah sakit, masih ada yang nyalahin kok sakit, susunya safa kurang atau nggak. Empati ke saya sedikit, kek!).

Ini agak lucu sih sebenarnya kondisinya. Jadi ceritanya, saya saat ini ada di analyst, dan dari hasil profiling, saya diberi amanah dan tanggung jawab yang agak lebih besar. Satu bulan setelah masuk, hasil profiling tersebut mewajibkan saya untuk mengikuti training hari kamis jumat, dan kamis jumat sabtu.

Semua masih oke. Sampai akhirnya teman saya tiba-tiba cuti melahirkan, lalu saya harus training sampai Sabtu, lalu saya dapat project, lalu saya kaget kerjaan teman saya ini printil-printil dan banyak sekali rupanya, lalu di rumah masih harus menyusui Safa, lalu setiap malam hampir selalu Safa bangun karena haus, dan yaa.. akhirnya gejala typus.

Kami ini ada 10 orang di Departemen Finance Analyst (mungkin nggak berlebihan kalau lebih tepat saya katakan as "Business Analyst"). Dari 10 orang tersebut, 2 orang stand by di pabrik, 3 orangnya cuti melahirkan. Ya, jadi intinya saya sedang memback up pekerjaan 2 orang.

Nggak nggak, harusnya ini mudah, tapi sayanya saja yang kaget. Ditambah kalau sudah ada masalah keluarga. Masha Allah.. Seumur-umur, baru kali ini saya sakit sampai cuti 3 hari berturut-turut, baru kali ini juga sampai harus curhat ke Psikolog.

Sampai ingin sekali rasanya resign. Bener juga kata beliau. Sempat terpikirkan, "Ngapain saya kerja, kalau nanti saya malah nggak ngurusin anak". Tapi dengan kondisi saat ini, Psikolog bilang, "Kalau kamu resign, urusannya malah tambah rumit".

Bener juga.

Masha Allah, harus banyak sabar. Tantangan makin berat, tapi teman-teman satu persatu sudah sibuk dengan dunianya. Nggak ada tempat mengadu paling indah selain buka sajadah lalu menangis.

Mungkin karena ini baru tahun kedua pernikahan. Sayanya juga masih manja.

Manja. Ini juga jadi problem. Saya heran. Kenapa ya, padahal biasanya saya ulang tahun juga nggak mengharapkan apa-apa, nggak pernah ada perayaan juga. Kenapa ya, rasanya ingin aja gitu dapat surprise kecil, rasanya ingin saja gitu diperhatikan, rasanya suami masih lebih berat ke keluarganya padahal di sini ada keluarga kecilnya (atau mungkin ini karena sayanya saja yang sedang sensitif).

Nulis gini saja saya nangis coba. Huft, manja.

Mau nangis, kalau dulu apa-apa bisa langsung dikerjakan sendiri. Kalau lagi stres, bisa langsung "ngelayap", nyusurin stasiun demi stasiun, masuk ke gang-gang kecil, ngobrol sama orang baru di masjid antah berantah... Terakhir "nyasar", sudah dua tahun yang lalu, sama Tyas, muter-muter di antara bangunan tua di Prague dan ga ketemu-ketemu sama jembatan Charles. Itu kocak sih. Nah kalau sekarang, kalau mau keluar mikir, nanti kasian mama harus gendong Safa, nanti kasian Safa kalau susunya habis, nanti kasian Mba Tati (yang bantuin di rumah) ga bisa pulang.

Tapi saya mau jalan jalan sendiri. 1 jam aja. Mau bengong di pinggir Cisadane, sambil makan mi goreng plus teh manis hangat. Mau melepas segala ekspektasi tentang pernikahan ke buih2 sungai, biar bisa dianter ke laut, nguap, lalu jadi hujan..

Hah..

Tapi lagi, kalau pulang kantor, lagi suntuk-suntuknya, lihat Safa senyum, atau nangis megang-megang baju kode mau disusuin, rasanya sedih, kenapa saya egois banget. Terlalu mikirin diri sendiri. Padahal ada nyawa yang sedang menunggu untuk dipeluk dan minta saya segera pulang.

Ya, gitu, pernikahan, 20% tentang nikmatnya ada yang mendampingi, sebenarnya 80% nya segalanya tentang perjuangan menjadi manusia yang "utuh", perjuangan untuk menyempurnakan iman.

Berita lainnya kalau saya pikir-pikir kembali, dan saya renungkan, ya, kondisinya memang ngga bisa saya resign. Selain saya masih butuh comben, saya bisa membalas "dosa" atas keegoisan saya di rumah dengan menjadi manfaat di perusahaan, itu yang utama. Mungkin saya akan resign suatu saat, jika perusahaan sudah tidak lagi membutuhkan. Toh, saya dikelilingi manusia-manusia strong nan baik hati yang menginspirasi di sana.

Dan ya, perjuangan untuk menyempurnakan iman ini mungkin adalah nikmatnya menikah. Apalah gunanya hidup coba? Apalah yang dibawa ke alam kubur coba?

Semoga bisa melewati setiap ujian. Aamiin.

---


O iya, karena saya telalu egois kemarin, saya sampai lupa menyelamati diri saya sendiri.

Hai, Phi! Selamat ulang tahun. Semoga kita berjumpa lagi, dan semoga kita mendewasa bersama. Sudah 27 tahun ya? Lama juga. Alhamdulillah..

Hai, Phi! Apa aku boleh menyimpan dendam? Ada nggak sih menyimpan dendam dengan cara yang baik? Boleh nggak sih, aku berdoa, agar Allah mengadili orang-orang yang men-zalimi kita dengan se-adil-adilnya? Aku capek, capek banget. Nggak biasa ngurusin orang nggak berperasaan.

Cheers.

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei