Selasa, Desember 04, 2018

Diposting oleh ghea utari di Selasa, Desember 04, 2018
Katanya, orang hamil ga boleh sendu. Tapi belakangan ini sering hujan, bikin saya jadi mellow.

Seringkali saya tes hati saya sendiri, saya ini sedang marah karena bawaan hamil jadi sensitif, atau memang kondisi orang normal pun akan marah kalau kondisinya seperti ini.

Hasil pikiran jernih saya mengatakan, orang normal pun akan marah. Orang normal mana yang mau direndahkan? Orana normal mana yang mau keluarga dijelek-jelekkan? Orang normal mana yang mau prinsipnya diremehkan?

Ada-ada saja godaannya.

Maafkan mama ya, Kak, mama sering belum bisa kontrol emosi. Bukan belum bisa kontrol emosi, sih. Lebih karena merasa.. yang salah nggak dibolehin didiamkan. Nanti jadi rancu, mana yang benar dan salah. Mana yang haram, halal, dan mana yang dicampuradukkan. Mana perkataan yang dihias, mana yang jujur. Mama nggak tahu ini salah atau nggak. Tapi yang bengkok bukankah harus diluruskan? Daripada semakin bengkok, lalu patah..

Mama bukan orang pintar, jauh dari kata pintar. Kalau mama pintar, mungkin mama sudah bisa kuliah S 2 di luar negri, atau setidaknya dapat beasiswa. Yang bisa mama lakukan hanya belajar untuk mendengar apa kata naluri dan alam. Orang bilang, orang yang pintar sering dikalahkan oleh orang yang beruntung. Ada yang bilang, keberuntungan itu terjadi ketika usaha dipertemukan dengan kesempatan.

Kau tahu nak? Alam mengajarkan kepada mama, kadang kita bisa menang karena usaha kita (tanpa perlu menunggu datangnya kesempatan), kadang kita bisa menang karena keberuntungan (atau mungkin ini yang sering kamu rasa sebagai kebetulan), dan kadang kita bisa menang karena usaha dan keberuntungan sedang bersama. 

Ndak ada yang tahu kapan tiga peluang itu muncul. Di hidup mama, frekuensi yang paling dan sangat paling terjadi adalah menang karena usaha, yang kedua adalah keberuntungan (yang lebih terasa seperti kebetulan), dan yang sangat jarang adalah yang ketiga. Kenapa? Karena alam mengajarkan bahwa sebenarnya hampir tidak ada yang namanya kebetulan (atau mungkin sama sekali tidak ada?). Semua hal terjadi karena suatu alasan, atau sering kita sebut sebagai takdir.

Yang namanya usaha, bentuknya bermacam-macam, ada yang positif dan negatif. Kalau kamu ragu mana yang positif dan negatif, buka saja Al-Quran ya, Nak. Di situ sudah jelas, jadi tidak usah ragu. Kalau bukan bertanya kepada si pembuat Al-Quran, kepada siapa lagi kamu harus meminta? Dukun? Orang pintar? Teman-temannya setan-setan itu? Yang nantinya mengajak kamu merasakan panasnya api neraka?

Dan mama selalu berusaha mempelajari apa kata naluri, kapan naluri itu diselipkan "ego" oleh si setan, kapan dia benar-benar naluri yang jaraknya sangat dekat dengan ilahi. Disetiap hempasan nafas kita bukankah ada zat sang pencipta? Namun naluri itu sering sekali dibumbui oleh oleh, rasa takut, hawa nafsu, dan lain-lain sebagainya.

Apakah mama salah untuk mengikuti kata naluri mama? Mama juga tidak tahu, mama masih dan terus belajar mendengar kata hati. 

Kita sama-sama belajar ya, sayang. Kita tumbuh bersama ya, sayang. 

Mama sayang kakak. Abi sayang kakak. Uti sayang kakak. We miss you sayang.

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei