Rabu, Desember 27, 2017

Kelebihan kamu apa?

Diposting oleh ghea utari di Rabu, Desember 27, 2017
Sedikit banyak, saya setuju dengan banyak pemahaman dari Pak Subakat. Salah satunya, beliau tidak suka menilai kepribadian seseorang dengan salah satu karakter khusus, misalnya kamu adalah orang yang ENFP jadi kamu itu a b c d. Atau, kamu orang yang introvert, jadi kamu itu a b c d.

Saya ndak tahu sih pemahaman saya sama atau tidak dengan Bapak. Saya sedang berpikir, menilai seseorang dengan salah satu karakter sepertinya membuat kita sering lupa untuk tidak mengkotak-kotakan seseorang. Misalnya, oh dia orangnya teliti, jadi dia pantas mengerjakan e f g. Oh, dia orangnya bijak, jadi lebih baik dia saja yang mengerjakan h i j k.

Sadar nggak ya, ketika karena suatu karakter lalu kita memberikan suatu aktivitas atas penilaian tersebut, secara tidak langsung kita bilang kalau si itu kurang teliti, si itu tidak bijak. Padahal, belum tentu yang menilai itu lebih teliti dan lebih bijak. Ketika itu, muncul ketidakpercayaan terhadap si itu. Kata tidak atau kurang merujuk pada konotasi negatif. Dan penilaian itu sangat subjektif. Dengan kata lain, jika ada suatu sebab (nilai) yang mengakibatkan kita memiliki preferensi atas apapun (atas pendelegasian atau apapun), ada prasangka buruk yang muncul.

Sebelum banyak yang menghujat, saya luruskan dulu.. sebenarnya preferensi itu perlu memang untuk melakukan hal yang lebih efektif, tapi maksud saya jangan sampai itu diumbar.. why?

Balikin saja ke diri kita, ketika kita mendengar si bos bilang ke si A oh kerjaan kamu teliti, kamu saya kasih bonus.. apa yang kita rasakan karena kita bukan si A?

Emang saya se tidak teliti itu ya? Lalu muncul rasa tidak percaya diri.. ditambah tidak dapat benefit yang dirasakan si A.

Sekarang saya paham kenapa saya tidak terlalu suka kompetitif yang terbuka. Ketika ada seseorang yang terlalu diunggulkan, ada prasangka negatif dari orang lain ke diri saya yang menghambat kemajuan, ntah itu berakibat orang lain itu jadi tidak percaya pada saya karena lebih percaya dia, saya jadi tidak dijadikan teman, lalu muncullah kelompok kelompok.. si cantik dan si cantik, si pintar dan si pintar..

Ya.. intinya membuat penilaian dan preferensi penting agar pekerjaan lebih efektif. Tapi, jaga perasaan itu agar tidak merendahkan orang lain. Orang lain bisa mengerjakannya kok kalau memang dipercaya. Saya selalu ingat, murid saya yang awalnya sering dapat nilai matematika di bawah lima, hanya karena setiap pertemuan saya berusaha memunculkan kepercayaan (karena saya nggak jago ngajar), dia bisa mendapat nilai hampir sempurna untuk matematika.

Tapi begitu perasaan merendahkan yang lain muncul, apalagi terucap, jangan harap kolaborasi bisa lancar, kecuali jika diizinkan Allah.

Allah memang maha pembolak balik hati.

0 any question or statement?:

Posting Komentar

 

Jurnal Biasa Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei